Pemimpin Gereja Katolik Roma di Indonesia, Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja, menyatakan dirinya tidak akan turut serta dalam pelaksanaan Konklaf atau pemilihan Paus baru lantaran masalah kesehatan.
Stasiun televisi Aljazeera melaporkan, Jumat (22/2), lelaki 78 tahun itu mengatakan ke majalah Katolik dari Indonesia, Hidup Katolik, penglihatannya sudah mulai bermasalah dan dirinya sudah tidak mampu membaca tulisan, materi peraturan, dan segala hal yang berhubungan dengan pemilihan itu.
"Kekuatan saya mulai memburuk, kemampuan membaca saya juga sudah melemah dan semua itu merujuk pada kekuatan, kecepatan, dan kelincahan," kata Julius. "Saya telah menyatakan permintaan maaf dari Gereja Katolik di Indonesia kepada Vatikan bahwa saya tidak bisa mewakili Indonesia dalam kegiatan yang sangat penting ini."
Keputusan Julius ini membuat jumlah Kardinal yang memiliki umur di bawah 80 tahun saat ini tinggal 116 saja. Para Paus ini memenuhi syarat untuk memilih penerus Paus Benediktus XVI.
Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja menjabat Uskup Agung Jakarta sejak 11 Januari 1996 sampai 28 Juni 2010. Sebagai Kardinal, dia juga turut serta dalam pemilihan Paus baru pada tahun 2005, yang akhirnya memilih Paus Benediktus XVI.
Paus Benediktus XVI akan resmi mundur dari jabatannya pada 28 Februari mendatang tepat pukul 19.00 waktu setempat.
Awal pekan ini, Takhta Suci Vatikan menyatakan Paus Benediktus XVI kemungkinan akan merubah peraturan pelaksanaan Konklaf. Keputusan ini memungkinkan pertemuan para Kardinal di Ibu Kota Roma, Italia, dipercepat.
Perubahan aturan itu juga bisa diartikan bahwa pelaksanaan Konklaf akan dimuali pada 15 Maret mendatang. Hal ini lebih cepat dari ketentuan yang sebelumnya ditentukan.
Vatikan juga menginginkan agar Gereja Katolik Roma sudah mempunyai Paus baru sebelum perayaan Minggu Palma yang jatuh pada 24 Maret ini. Hal ini dimaksudkan agar Paus baru terpilih sudah dapat memimpin perayaan Paskah pada 31 Maret mendatang.
