Panglima Militer Jenderal Abdul Fattah al-Sisi kemarin menyatakan diri maju dalam pemilihan presiden dan dia resmi undur dari kabinet sebagai menteri pertahanan. Reaksi keras dan dukungan melebur jadi satu namun tak satu pun menyurutkan langkahnya menjadi orang nomor satu di Mesir.
Sisi melengkapi daftar presiden Mesir berasal dari kalangan militer. Muhammad Naguib memimpin Mesir sekaligus presiden pertama Negeri Sungai Nil itu merupakan kalangan militer. Lalu lanjut pada Gamal Abdul Nasser hingga Husni Mubarak juga dari angkatan bersenjata.
Hanya Muhammad Mursi presiden pertama Mesir berasal dari sipil namun nasibnya menjadi pemimpin nomor satu di negara itu tak mulus. Salah menetapkan dekrit membawa negaranya pada konflik tak kunjung usai. Bahkan rakyat terbelah tiga. Mereka mendukung militer, mereka mendukung Mursi, dan berada di tengah keduanya, seperti dilansir stasiun televisi BBC (23/1).
Mudah menggulingkan Mursi oleh militer mengatas namakan rakyat. Di Timur Tengah angkatan bersenjata Negeri Piramida itu berada di peringkat dua terbaik dan terbesar setelah Israel meski kejayaan dan fungsi mereka tak lagi menggaung sebab hampir jarang kembali terlibat dengan perang dan ikut ambil bagian pertahanan internasional. Mereka seperti dipersiapkan melawan rakyatnya sendiri.
Militer Mesir bisa besar berkat dukungan Amerika Serikat secara penuh. Negara Adidaya itu mengucurkan dana hingga Rp 6 triliun demi mendanai angkatan bersenjata Negeri Sungai Nil itu. Namun tahun lalu Presiden Barack Hussein Obama menghentikan bantuan ke Mesir sebagai protes penggulingan Mursi.
Bantuan ini lebih tepatnya ditangguhkan sebelum Obama melihat perkembangan Mesir menuju pemilihan umum yang bebas dan adil serta mendapat hasil didukung rakyat negara itu. "Kami akan menahan pengiriman sistem militer berskala besar dan bantuan dana tunai hingga ada kemajuan menuju terbentuknya pemerintahan sipil terpilih secara demokratis melalui pemilu," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Jen Psaki dilansir BBC (10/2013).
Bantuan dihentikan termasuk helikopter Apache, rudal Harpoon, serta komponen kendaraan lapis baja hingga uang tunai. Obama mengatakan pemerintah sementara dan militer tidak konsisten terhadap demokrasi.
Meski demikian Sisi tak mati ide. Diam-diam dia berkunjung ke Israel pertengahan bulan ini diyakini melobi Negeri Bintang Daud itu agar sekutunya Amerika tidak menghentikan bantuan bagi militernya meski disanggah Sisi. Dia mengatakan menemui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu hanya untuk silaturahmi.
Silaturahmi terdengar agak ganjil mengingat Netanyahu dan Sisi bukanlah karib. Terbukti sehari setelah kunjungan Netanyahu menyerukan Amerika agar tetap mendukung militer Mesir meski Obama tak bergeming hingga kini.
Walau tak lagi mendapat dukungan penuh dari pemerintah Obama, Sisi masih bernafas lega lantaran tetap mendapat bantuan dan pasokan senjata dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Ini sebagai upaya agar Negeri Sungai Nil itu mengurangi ketergantungannya pada Amerika.
