Trump: AS tak perlu lagi melindungi Arab Saudi di Timur Tengah

Menurut bakal capres AS ini, dulu AS membantu Saudi karena butuh minyak. Sekarang minyak tak lagi berharga

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Trump: AS tak perlu lagi melindungi Arab Saudi di Timur Tengah
Bakal calon presiden AS Donald Trump. ©gawker

Bakal Calon Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengkritik kebijakan luar negeri pemerintahnya yang menganakemaskan Kerajaan Arab Saudi dalam politik Timur Tengah. Pengusaha tajir dari bisnis kasino itu menilai sudah saatnya Washington D.C mengendurkan proteksi terhadap Negeri Petro Dollar itu.

Dalam perspektif Trump, kebijakan membantu Saudi selama ini hanya menghambur-hamburkan uang. Selain menyedot anggaran tak sedikit, tak ada imbal balik spesifik yang diterima AS dari klan kerajaan Bani Saud.

"Mereka sudah kita bantu terus, sehingga tak ada yang macam-macam di Timur Tengah dengan Saudi," cetus Trump dalam kampanye terbuka kemarin malam di Kota Milwaukee, seperti dilansir Channel News Asia, Minggu (3/4).

"Tapi lihat hasilnya, mereka tidak membayar bantuan kita secara sepadan," imbuh Trump.

Bagi bakal capres Partai Republik itu, seharusnya Saudi tahu diri dengan membayar sejumlah uang atas sokongan militer Negeri Paman Sam. Apalagi setelah kehadiran tentara AS di Saudi sejak 1970-an sudah tak berarti dari sisi ekonomi.

"Dulu, AS melindungi Saudi karena butuh minyak. Lihat, sekarang kita tidak terlalu butuh minyak mereka lagi untuk pasokan energi," kata Trump.

AS-Saudi bekerja sama di bidang intelijen serta penjualan senjata maupun alutsista seperti jet tempur. Tak kurang, pelaksanaan ibadah haji juga memakai sistem pengawasan yang dipasok oleh militer AS.

Seandainya terpilih menjadi presiden AS, Trump berjanji akan menghentikan pembelian minyak dari Saudi. Dia membayangkan kontrak baru dilanjutkan, jika Saudi bersedia mengirim pasukan darat buat menghabisi gerombolan ISIS di Suriah, Irak, maupun wilayah-wilayah lain Timur Tengah. "Kebaikan kita seharusnya dibalas oleh negara-negara mitra, termasuk Saudi," kata Trump.

Selain mengkritik hubungan AS-Saudi, pada forum yang sama sang miliarder kontroversial ini sekaligus mencemooh relasi tentara AS dan Pakta Perjanjian Atlantik Utara (NATO). Trump berpandangan aliansi militer 28 negara itu seharusnya diakhiri karena menghabiskan anggaran.

Trump tidak mengubah sikapnya yang sering ceplas-ceplos saat berkampanye. Menjelang Konvensi Partai Republik, pelbagai pihak sudah memintanya mengungi tensi saat kampanye.

Tak kurang Presiden Barack Obama menyinggung Trump yang seharusnya sadar diri ucapannya sebagai bakal capres AS akan diperhatikan oleh seluruh dunia. Jika salah berucap, Trump akan memicu krisis bagi Negeri Paman Sam.

"Ucapan-ucapan tidak bertanggung jawab soal Semenanjung Korea ataupun nuklir kita itu dibuat oleh orang yang tidak memahami sama sekali politik luar negeri AS," kata Obama tanpa menyebut nama Trump.

Rekomendasi