Kondisi keamanan di Nepal memanas menyusul gelombang demonstrasi besar-besaran yang melanda Ibu Kota Kathmandu. Situasi ini berdampak langsung pada operasional Bandara Internasional Tribhuvan (TIA) yang terpaksa ditutup sementara. Penutupan bandara ini, yang berlaku sejak Selasa, 9 September 2025, menyebabkan pembatalan seluruh penerbangan dan ribuan penumpang terlantar.
Langkah penutupan diambil demi alasan keamanan dan keselamatan penerbangan, mengingat intensitas demonstrasi yang terus meningkat di Lembah Kathmandu. Selain itu, asap tebal akibat kebakaran di Gothatar, yang berada dekat landasan pacu bandara, turut memperburuk kondisi. Insiden ini secara signifikan mengganggu konektivitas udara Nepal dengan dunia internasional.
Protes yang dipimpin oleh kaum muda atau Generasi Z ini menyoroti isu korupsi yang merajalela di pemerintahan serta larangan kontroversial terhadap media sosial. Eskalasi konflik ini menciptakan krisis yang mendalam, memaksa pemerintah untuk mengambil tindakan darurat. Dampak penutupan bandara ini dirasakan luas oleh wisatawan dan warga lokal.
Advertisement
Penyebab dan Kronologi Penutupan Bandara
Bandara Internasional Tribhuvan (TIA) di Kathmandu menjadi pusat perhatian setelah ditutup sementara akibat gejolak politik. Penutupan ini bermula pada 9 September 2025, menyusul laporan mengenai demonstrasi yang kian meluas. Keamanan menjadi prioritas utama, terutama karena lokasi bandara yang tidak jauh dari pusat aksi protes.
Pemicu utama demonstrasi adalah kekecewaan publik, khususnya Generasi Z, terhadap praktik korupsi di pemerintahan. Kebijakan pemerintah yang melarang penggunaan media sosial juga turut memicu kemarahan massa. Situasi semakin tegang dengan adanya kebakaran di dekat bandara, yang menciptakan asap berbahaya dan memperparah kondisi keamanan di sekitar area vital tersebut.
Aksi protes yang semula damai berubah menjadi lebih intens dan terkadang disertai kekerasan. Kondisi ini membuat operasional bandara tidak memungkinkan. Pemerintah Nepal, melalui otoritas terkait, memutuskan untuk menangguhkan semua penerbangan guna menghindari risiko yang tidak diinginkan bagi penumpang dan kru pesawat.
Advertisement
Dampak Luas Pembatalan Penerbangan
Penutupan Bandara Internasional Tribhuvan berdampak besar pada sektor penerbangan dan pariwisata Nepal. Ribuan penumpang, baik yang akan berangkat maupun tiba, terpaksa terlantar di bandara atau di kota-kota transit. Maskapai penerbangan harus membatalkan jadwal mereka, menimbulkan kerugian finansial yang tidak sedikit.
Beberapa maskapai penerbangan yang terdampak langsung oleh pembatalan ini meliputi:
- Air India
- IndiGo
- Qatar Airways
- Buddha Air
- Nepal Airlines
- SpiceJet
- Fly Dubai
- Air Arabia
- Singapore Airlines
- Batik Air
Seorang turis yang terdampar di bandara mengungkapkan kekecewaannya. "Situasinya tegang di sana. Kami tidak diizinkan melintas. Bandara ditutup. Jadi, kami kembali. Kami adalah rombongan 60 orang – semuanya lansia. Kami kembali dari bandara," ujarnya. Kesaksian ini menggambarkan betapa sulitnya situasi yang dihadapi para penumpang.
Pembatalan ini mengganggu lebih dari 250 penerbangan harian yang biasanya dilayani oleh bandara tersebut. Banyak penumpang yang tidak mendapatkan informasi yang memadai dari maskapai, menambah frustrasi mereka. Kejadian ini menyoroti kerentanan infrastruktur transportasi di tengah gejolak sosial.
Advertisement
Tindakan Pemerintah dan Pembukaan Kembali
Menanggapi situasi yang semakin tidak terkendali, pemerintah Nepal mengambil langkah tegas untuk memulihkan keamanan. Tentara Nepal dikerahkan untuk mengamankan Bandara Internasional Tribhuvan serta wilayah-wilayah strategis lainnya. Pengambilalihan kendali bandara oleh militer bertujuan untuk memastikan tidak ada lagi upaya penyusupan oleh demonstran.
Tekanan dari demonstrasi juga berujung pada perubahan politik di tingkat tertinggi. Perdana Menteri KP Sharma Oli mengundurkan diri dari jabatannya. Pengunduran diri ini diharapkan dapat meredakan ketegangan dan membuka jalan bagi dialog antara pemerintah dan kelompok demonstran. Langkah ini menunjukkan respons pemerintah terhadap tuntutan publik.
Meskipun sempat ditutup tanpa batas waktu yang jelas, Bandara Internasional Tribhuvan akhirnya dibuka kembali untuk penerbangan sipil pada Rabu, 10 September 2025. Pembukaan kembali ini dilakukan setelah penutupan selama sekitar 24 jam. Keputusan ini diambil oleh Komite Keamanan Bandara Internasional Tribhuvan, menandakan situasi yang mulai kondusif.
Pembukaan kembali bandara ini membawa harapan bagi ribuan penumpang yang tertunda dan sektor pariwisata Nepal. Otoritas bandara menyatakan bahwa semua penerbangan akan kembali beroperasi secara normal. Meskipun demikian, pemerintah tetap memantau situasi keamanan dengan ketat untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
