Pemuda bernama lengkap Agus Eko Suryanto, ini kerap disapa Agus atau juga sering dipanggil dengan nama panggungnya, Nyai Roro Dadak Purwo.Terlahir dari keluarga berdarah seni di Banyuwangi, Agus mantap menapaki karir sebagai seorang penari profesional. Sayangnya, keputusan Agus untuk menekuni crossdresser (berlakon sebagai wanita) acapkali menerima cibiran dari banyak orang.Pemuda yang masih tercatat sebagai mahasiswa Seni Tari angkatan 2009 di Universitas Negeri Malang itu bahkan pernah dikatai sebagai waria atau homo. Miris memang, namun bukan tanpa alasan Agus menekuni karir sebagai seorang penari crossdresser, yang juga dipopulerkan oleh seorang Maestro Tari Indonesia, Didik Nini Thowok. "Bagi saya, ini adalah jiwa saya. Orang mau bilang apa silahkan," katanya ketika ditemui PulseFeed di Sekretariat Unit Kemahasiswaan Seni Tari dan Karawitan di Universitas Negeri Malang (30/5).Agus tak menampik bahwa ada alasan lain yang membuatnya memutuskan jadi seorang crossdresser. Salah satunya adalah karena dirinya termasuk pribadi yang tertutup. Maka untuk bisa tampil di depan banyak orang, Agus berusaha menciptakan karakter lain sebagai bentuk alter egonya. Beruntung keputusannya mendapat dukungan penuh dari orang tua dan teman-teman sejawat.Dukungan dari mereka menjadi pelecut semangat bagi Agus untuk terus berkarya dan menggeluti profesinya sebagai seorang crossdresser. "Teman-teman sering kok mengancam saya. Awas ya kalau kamu ntar jadi waria atau homo. Apalagi sampai ketahuan mangkal, tak bunuh kamu," pungkasnya lalu tertawa. Ancaman itu menjadi semacam alarm yang membuatnya selalu berada di "jalur" yang benar. Tak sedikitpun terlintas di benak Agus untuk mengubah orientasi seksual atau gender karena perannya sebagai wanita dalam setiap lakon pementasan. Menurutnya, perannya sebagai wanita hanyalah sebatas profesi semata. Bukan seperti yang dibayangkan banyak orang bahwa dirinya itu waria atau pecinta sejenis.Kini, bersama teman-temannya, Agus mendirikan beberapa sanggar tari di Jawa Timur, termasuk di Jember, Mojokerto, Pasuruan, Banyuwangi, Magetan, Malang, dan masih banyak lagi. Bukan hanya itu. Agus dkk juga aktif berkolaborasi dengan banyak komunitas seni, baik itu di Jawa Timur ataupun Jawa Tengah, terutama Yogyakarta dan Solo. Dalam setiap penampilannya, pemuda yang mengaku sangat mengidolakan Raminten (nama panggung dari pemilik Mirota Batik, Yogyakarta) dan Didik Nini Thowok, itu juga selalu mengusung totalitas dalam berkesenian. Agus ingin semua pementasannya tampak sempurna. Oleh sebab itu, dirinya sangat mencermati setiap detail, mulai dari make up hingga kostum yang dipakainya saat menari. "Saya nggak pernah mau setengah-setengah. Mulai dari make up sampai kostum pokoknya harus total. Kebetulan semua saya lakukan sendiri. Mulai dari buat kostum sampai merias wajah," tandasnya.
Melestarikan seni, malah dikatai banci
Pemuda yang aktif sebagai penari crossdresser Jawa ini kerap dikatai banci atau pecinta sejenis karena profesinya.
Advertisement
Rekomendasi
