Jawa Barat dengan kearifan lokalnya yang unik selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi seluruh masyarakat luas. Sebagai salah satu wilayah dengan warisan budaya yang melimpah, provinsi berjuluk tatar sunda ini terus berupaya untuk mempertahankan geliat tradisinya yang kerap menghipnotis.
Salah satu tradisi peninggalan leluhur sunda yang masih terus dilaksanakan di Kuningan hingga saat ini adalah Pesta Dadung atau Ombyok Dadung. Sebuah tradisi ungkap syukur dengan membuang hama pada tumbuhan padi agar melimpahnya panen raya dan ternak sehingga menguntungkan.
Advertisement
Berkembang Sejak Abad ke 18
Dilansir dari disparbud.jabarprov.go.id, tradisi syukuran ala masyarakat Desa Legokherang, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat ini sudah berlangsung sejak abad ke 18 masehi, atau sekitar tahun 1900 an.
Saat itu tradisi tersebut digunakan sebagai perantara upacara ritus (pemujaan) kepada Ratu Galuh atau dewi pelindung komoditas tani dan ternak yang dipercaya masyarakat setempat agar komoditas yang dibudidayakan terlindung dari gagal hasil.
Pelaksanaan upacara tersebut merupakan suatu kebiasaan dari masyarakat sunda yang mayoritas sebagai masyarakat pastoral atau para penggarap lahan pertanian dan penggambala. Saat ini upacara tersebut selalu berlangsung beriringan dengan upacara seren taun khas Jawa Barat.
Advertisement
Pemicu Semangat Para Penggembala
Selain itu, sesuai dengan namanya, Dadung yang berarti tambang gembala yang diikatkan ke leher hewan ternak juga dilakukan untuk memicu semangat di setiap kegiatan penggembalaannya.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika para “budak angon” di upacarakan maka dia akan selalu diberikan kesehatan serta kekuatan untuk terus beraktivitas, baik bertani maupun menggembalakan hewan ternaknya.
Advertisement
Pelaksanaan Upacara Dadung
Dalam pelaksaannya upacara tersebut, awal mula tokoh adat setempat akan mengumpulkan Dadung yang terdiri dari dadung sepuh (tali penggembala yang besar dan merupakan warisan masa lampau), dadung penggembala dan sesajen (rurujakan dan parawanten).
Sementara proses pengumpulan dadung dan penempatan di sebuah kotak besar berwarna hitam. Gamelan harus terus ditabuh sebagai syarat pengiring dari upacara yang dianggap sakral tersebut sembari sesepuh setempat menyalakan kemenyan sembari membaca mantra.
Advertisement
Mantra Dadung
Allah kaula pangampura
Parukuyan rat gumilang
Aseupna si kendi wulang
Ka gigir ka para nabi
Ka handap ka ambu ka rama
Nu calik tungtung di kamar
Kadaharan tungtung kukus
Sakedap kanu kagungan
Advertisement
Menari hingga Pagi
Setelah mantra tersebut diucapkan, dadung dan hama dari tanaman tersebut lantas diarak dengan menggunakan gamelan pelog atau salendro. Sembari terus diarak menuju bukit Situ Hyang, Kuningan untuk di tarikan bersama ronggeng dan dibuang di kawasan perbukitan tersebut.
Sebelum mulai ditarikan oleh sesepuh dan perangkat desa lainnya, dadung tersebut dibacakan kidung rajah pamunah, dilanjutkan dengan pembacaan tulak Allah. Setelah itu, dadung kemudian ditarik oleh kepala desa disertai para aparat desa dan ronggeng dalam iringan lagu renggong buyut.
Setelah selesai, dadung kemudian disimpan kembali dan acara dilanjutkan dengan tayuban. Penarinya adalah para penggembala dan masyarakat yang hadir dalam upacara tersebut. Mereka menari sampai pagi dan berakhir sekitar pukul 04.00 pagi.
