Sambut KTT, Pakar UGM Sebut ASEAN Punya Peran sebagai Pusat Ekonomi Dunia

Pada tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN. Bagi pakar perdagangan ekonomi dunia dan politik internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Riza Noer Arfani, posisi strategis itu harus dimanfaatkan Indonesia.

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Sambut KTT, Pakar UGM Sebut ASEAN Punya Peran sebagai Pusat Ekonomi Dunia
Jokowi di KTT ASEAN. ©rusman/setpres

Pada tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN. Bagi pakar perdagangan ekonomi dunia dan politik internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Riza Noer Arfani, posisi strategis itu harus dimanfaatkan Indonesia.

Indonesia harus memanfaatkan momentum ini untuk menentukan isu-isu yang dibahas, salah satunya mengangkat penguatan komitmen ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dunia.

“Indonesia sangat bisa menyuarakan itu apalagi sekarang kita ketuanya dan ekonomi Indonesia juga tersebar di ASEAN, artinya kita memiliki posisi yang kuat,” kata Riza dikutip dari ANTARA pada Selasa (9/5).

Berjalan Sendiri-Sendiri

Menurut Riza, selama ini aktivitas perdagangan negara-negara ASEAN masih berjalan sendiri-sendiri. Walaupun beberapa negara ASEAN telah terintegrasi dengan rantai pasok dunia khususnya di bidang manufaktur, namun sebagian anggota negara yang lain masih terbelakang dan belum terintegrasi.

Sejumlah negara yang telah terintegrasi dengan rantai pasok dunia dalam bidang manufaktur antara lain Singapura, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Sementara yang belum terintegrasi adalah Myanmar, Laos, dan Brunei.

“Yang telah terintegrasi dengan ekonomi global-pun berjalan sendiri-sendiri, misalnya Malaysia dengan China, Indonesia dengan China, Thailand dengan China. Akibatnya negara ASEAN tidak memiliki posisi nilai tawar dalam ekonomi dunia,” kata Riza.

Mengulang Kesuksesan Masa Lampau

Riza mengatakan, cita-cita untuk menjadikan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dunia hanya bisa terwujud saat sudah terjalin kerja sama atau integrasi perdagangan antar negara anggota yang saling menguntungkan.

Apabila komitmen ini terwujud, integrasi perdagangan tidak boleh berhenti di level pemerintah. Namun juga bisa dilanjutkan pada level industri, bisnis, bahkan di level komunitas antar negara ASEAN.

“Saya kira kita perlu mengulang kesuksesan dulu pada tahun 1970-an saat ASEAN berhasil mendesain kerangka kerja sama di bidang otomotif yang waktu itu mitra utamanya adalah Jepang,” ujar Riza.

Peta Jalan yang Jelas

Menurut Riza, perlu disepakati peta jalan integrasi perdagangan yang jelas dengan mengoptimalkan potensi sumber daya yang dimiliki masing-masing negara ASEAN secara merata.

Ia mencontohkan, untuk produksi kendaraan listrik, masing-masing negara anggota bisa bekerja sama dan saling melengkapi dengan membuat setiap komponen yang dibutuhkan.

“Kalau produksi kendaraan listrik, Indonesia misalnya punya produksi baterai, Malaysia komponen elektriknya, kemudian Thailand apanya. Itu harus ada kesepahaman pada tiap negara ASEAN sebelum kemudian negosiasi dengan negara-negara mitra seperti Jepang, Amerika, dan Uni Eropa,” kata Riza.

Rekomendasi