China membidik selepas tarif naik

Sejumlah pihak menuding kenaikan tarif listrik agar pemerintah populer di mata masyarakat.

Islahudin
Oleh Islahudin - Reporter
China membidik selepas tarif naik
Petugas PLN tengah memperbaiki gardu listrik. (PulseFeed/arie basuki)

Mulai berlakunya tarif dasar listrik baru untuk pengguna tegangan 1.300 Volt Ampere awal tahun ini sudah dikecam oleh berbagai kalangan dan pengusaha. Kenaikan tarif itu lebih banyak digunakan oleh pelaku usaha dan industri kecil menengah. Meski banyak yang mengeluhkan hal itu, putusan itu tetap berlaku dengan kenaikan 15 persen secara bertahap saban tiga bulan.Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo menilai kebijakan pemerintah itu untuk kepentingan pemilihan umum 2014. Dia mempertanyakan kenapa kenaikan itu dibatasi pada sektor industri, padahal jumlah penggunaan mereka tidak sampai 30 persen. “Hampir seluruh negara di Asia Tenggara memberikan subsidi dan insentif pada industrinya karena bisa membuat terbukanya lapangan kerja lebih besar lagi,” ujar Sudaryatmo kepada PulseFeed.Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi pernah meminta kenaikan tarif itu tidak sampai 15 persen. Alasannya, beban pengusaha di Indonesia sudah banyak, mulai dari naiknya upah minimum buruh, tarif gas, dan terakhir kenaikan tarif dasar listrik tahun ini.Bahkan Sofjan pernah memperingatkan beberapa pengusaha akan hengkang dari Indonesia atas beban itu. Namun tetap saja pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyepakati kenaikan tarif dasar listrik. Kenaikan itu buat menghemat anggaran negara hingga Rp 14 triliun. Namun, menurut Sudaryatmo, jika pemerintah ingin mengurangi subsidi dan mengirit mestinya kenaikan tarif bisa dilakukan pada sektor rumah tangga yang jumlahnya mencapai 80 persen. Anggota Komisi VII DPR Vidang Energi, Teknologi, dan Lingkungan Satya Widya Yudha menganggap alasan pemerintah tidak menaikkan tarif listrik buat rumah tangga karena daya beli masyarakat masih rendah. Dia menambahkan pemerintah belum begitu siap dengan sistem subsidi listrik lantaran tidak ada kategori khusus penerima subsidi yang menekankan pada harga dan jenis tegangan digunakan.Ketua Asosiasi Penyedia Garmen Indonesia Suryadi Sasmita termasuk pihak mengeluhkan kebijakan itu. Menurut dia, kenaikan itu akan memukul industri menengah berbasis industri rumahan. Alhasil, agar tidak memberatkan konsumen, pengusaha garmen akan akan menurunkan kualitas produk guna mencegah harga naik.Kalau harus menaikkan harga, dia memastikan maksimum sepuluh persen. Namun bukan ini yang dikhawatirkan pada pengusaha garmen. Serbuan produk China dengan harga lebih murah merupakan ancaman terbesar.

Rekomendasi