Garmen China jadi ancaman

Produk China masuk secara ilegal.

Islahudin
Oleh Islahudin - Reporter
Garmen China jadi ancaman
pabrik garmen di jakarta timur. ©2012 Merdeka.com

Dalam industri garmen untuk usaha kecil dan menengah di Indonesia, biaya bahan produksi lebih besar ketimbang upah. Rata-rata industri garmen di Indonesia masih bersifat rumahan dengan tenaga kerja puluhan orang.Karena itu, kata Ketua Asosiasi Penyedia Garmen Indonesia Suryadi Sasmita, kenaikan tarif listrik buat sektor indusgtri bakal memukul pihaknya. “Industri garmen menengah itu bahan dasarnya benang dan kain. Dengan kenaikan ini otomatis industri benang dan kain akan menaikkan biaya sekitar sepuluh persen dan itu ditanggung pengusaha garmen untuk biaya produksinya,” kata Suryadi saat dihubungi PulseFeed melalui telepon selulernya Sabtu siang pekan lalu.Untuk menghindari kenaikan harga produk, Suryadi menjelaskan, pengusaha mungkin akan mengurangi mutu bahan produksi. Dia mencontohkan bagaimana pengusaha akan mencari jenis kain mirip, namun harganya di bawah yang sebelumnya dianggap bermutu. Sedangkan komponen upah tidak dinaikkan.Menurut Suryadi, sebenarnya kenaikan tarif dasar listrik itu bukan masalah besar bagi industri garmen kelas menengah. Yang menjadi masalah adalah akan membludaknya produk China ke Indonesia dengan sistem dumping dan harganya tentu lebih murah.Apalagi, tahun lalu ekspor garmen China ke pasar Eropa menurun akibat resesi ekonomi. Besar kemungkinan barang-barang produksi China itu akan dimasukkan ke Indonesia. Pemerintah China sangat mendukung ekspor dengan memberikan insentif kepada industri. “Biasanya masuknya borongan dengan kontainer dan ilegal,” kata Suryadi.Serangan produk garmen dari China bisa membuat pengusaha sulit bersaing bila pemerintah tidak serius menghadang masuknya barang-barang itu. “Kalau masuk dari pelabuhan besar mungkin bisa dihadang pemerintah, tapi bagaimana dengan pelabuhan kecil kita. Jumlahnya banyak sekali,” ujar Suryadi.

Rekomendasi