Papan nama Western Union terpampang mencolok di sebuah warung kelontong di Desa Bongas Blok Pentil. Alhasil, warung itu bisa melayani jasa penerimaan fulus dari luar negeri. Lokasi warung ini sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Indramayu, Jawa Barat.Paling tidak, warung ini saban bulan dipenuhi warga hendak mengambil kiriman uang. “Kebanyakan di sini TKI (tenaga kerja Indonesia),” kata Nono Taryono, 48 tahun, warga Desa Bongas Pentil kepada peserta kunjungan lapangan Jurnalis Sensitif Tindak Perdagangan Orang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) akhir bulan lalu.Kebanyakan gadis dari Desa Bongas bekerja di Jakarta atau luar negeri. Selain bekerja benaran, ada juga yang menjadi korban penipuan sehingga terjerumus menjadi pelacur. Selain ekonomi dan pendidikan, gaya hidup konsumtif juga mendorong mereka terbuai rayuan. “Kalau anaknya pulang kampung malah kadang suka hajatan, undang organ tunggal,” ujarnya.Dari hasil penelitian Yusuf di tiga desa, warga Bongas kini tinggal di Cirebon, Jawa Barat, warga Indramayu memang gampang digoyang uang. Istilahnya luruh duit atau luluh terhadap uang. “Mereka iri kalau tetangga kaya,” kata sarjana hukum lulusan dari Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon, ini. Bahkan, kata Nono, warga Bongas tidak malu ketahuan bekerja sebagai pelacur. Parahnya, penduduk menganggap itu budaya. “Mereka mengganggap tidak ada yang tabu lagi."Mawar, bukan nama sebenarnya, mengaku menjadi korban penjualan manusia. Saat berusia 19 tahun, dia menjadi pembantu di Bahrain. Bukannya untung, nasibnya malah buntung. “Saya dipukuli karena tidak bisa berbahasa Arab,” Ujarnya. Selama 18 bulan, dia tidak digaji. Setelah mengadu ke agen, dia malah dijual ke majikan baru. Kondisinya sama, kerap disiksa. Lantaran tidak tahan, dia kabur mengadu ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh, Arab Saudi.
