Tidak ada yang berani intervensi saya

Indra mengancam mencoret pemain menjadi bintang iklan.

Arbi Sumandoyo
Oleh Arbi Sumandoyo - Reporter
Tidak ada yang berani intervensi saya
Pelatih Tim Nasional U-19 Indra Sjafri di Hotel Transit Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Jumat, (25/10). (PulseFeed/pramirvan datu aprillatu)

Tim Nasional U-19 (berusia di bawah 19 tahun) sedang bersiap menghadapi putaran final Piala Asia digelar Oktober tahun depan di Myanmar. Para pemain besutan Indra Sjafri kini digenjot agar siap berlaga di sana. Sebab itu, para pemain tidak bisa sembarangan menerima tawaran iklan. Komitmen Tim Nasional U-19 adalah memenangkan turnamen. Jika ada pemain melangkahi komitmen, Indra tak segan-segan mencoret nama mereka. "Kalau ada (main iklan), saya coret dari tim nasional. Untuk apa memelihara orang tidak berkomitmen, nanti tim nasional kita dijual lagi," kata Indra saat berbincang dengan PulseFeed di lobi Hotel Transit Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Jumat dua pekan lalu.Berikut petikan wawancara dengan Arbi Soemandoyo dan Pramirvan Datu Aprillatu.Apa upaya untuk masuk ke Piala Dunia?Ini yang kita lakukan periodesasi, persiapan tim nasional U-19 menuju Piala Dunia. Persiapan itu akan saya lakukan mulai tanggal 9 bulan ini (November).Kenapa suka sama formasi 4-3-3, apa filosofi di balik formasi itu?Formasi ditentukan oleh pemain. Coba pergi ke daerah-daerah, ke desa-desa, nggak kenal tuh orang formasi 4-4-2. Kalau nggak ada orang pilih luar, orang nggak mau bola. Berarti sumber permainan 4-3-3 banyak. Ngapain ikut orang kafir lewat. Iya kan, ngapain coba. Sekarang harus sok-sok kiblat kita harus ini. Coba Mas pake pakaian orang lain, cocok nggak? Pakai pakaian sendiri, ngapain pakai pakaian orang lain.Apakah itu merupakan strategi?Menurut saya, itu paling cocok karena sumber pemainnya banyak. Di desa-desa kalau nggak ada kenal, nggak jadi main bola. Coba kenal nggak dia 4-4-2, kita aja latah. Pelatih kita saja sok-sok latah. Ngapain kita ikut-ikutan Mourinho. Mourinho, ya morinho, saya, ya saya. Iya dong negara kita sebesar ini harusnya mereka meniru kita.Melihat komposisi 4-3-3 itu ketika Anda blusukan atau apa?Saya tegaskan sekali lagi, formasi atau pola itu tergantung pemain. Saya punya linear, kenapa kita pakai 4-4-2, ngeyel kita namanya. Punya linear bagus, ya pakai 4-3-3. Nah 4-3-3 dengan perkembangannya bisa menjadi 4-5-1. Bisa 4-3-3 menyerang, bisa 4-4-2 menyerang, kan bisa aja.Kalau buku pelatihan dibaca?Banyak bukulah, mulai dari Bompa. Ilmu kepelatihan di dunia pada dasarnya sama. Periodesasi dari Bompa. Siapa kenal Bompa, itu dilupakan orang. Misal, uji coba tentukan EO, sekarang mana mau. Sekarang EO teriak-teriak mau uji coba di persiapan umum. Di mana otaknya gitu. Persiapan umum itu uji fisik, ototnya pada hancur uji coba. Nanti kalah 8-0, 9-0, dia ketawa setelah dia dapat duit. Sekarang mau minta uji coba, ya nggak bisa. Jadi yang mengatur uji coba itu bukan pengurus, bukan EO, tapi saya yang mengatur. Nggak bisa mereka, kebutuhan pelatih. Ini Chelsea mau datang kita mau uji coba. Nanti kalah 8-0 siapa malu, EO atau PSSI malu? PSSI malu. Jangan pelatih mau diotak-atik sama orang.Kalau panutan pelatih di Indonesia atau di luar negeri siapa?Saya nggak punya panutan-panutan. Panutan saya cuma Nabi Muhammad. Saya mau menjadi diri sendiri. Mungkin bisa menjadi literatur bacaan, boleh. Kayak Mourinho, dia punya komitmen, dia menekankan klub lebih besar dari pemain. Jangan kayak di Indonesia, pemain lebih besar dari indonesia. Coba lihat sekarang, pemain lebih besar dari Indonesia. Seperti pongah, yang kelakuan begini seolah dia lebih besar dari negara ini. Itu harus diubah. Nah, Mourinho itu filosofinya. Ronaldo pun dibentak sama dia. Jangan kira kamu lebih besar dari Real Madrid. Itu harus ditegakkan.Berarti Anda mengagumi Mourinho?Iya bisa tapi bukan sebagai tokoh melainkan sebagai insiprasi.Kalau disuruh pilih antara Mourinho atau Pep Guardiola?Saya lebih suka Mourinho karena dia lebih atraktif karakternya. Tapi saya juga benci dia. Dia bilang lebih menyulitkan nyamuk Indonesia daripada tim Indonesia. Kurang ajar itu namanya kan? Tapi orang kita masih bisa ketawa. Kalau di depan saya, saya ludahin dia. Ngapain dia menghina begitu, di negara kita kok dia ngomong begitu.Tim Nasional U-19 sedang naik daun, sejauh ini ada nggak pengaruh dari prestasi para pemain ? Ada tidak tawaran-tawaran iklan?Ditolak, kan sudah komitmen. Sebelum pulang sudah saya bilang nggak ada main iklan. Nggak ada rupanya, semua fokus.Ada tidak salah satu pemain mencoba mengambil kesempatan itu?Nggak ada, kan saya sudah bilang. Kalau ada saya coret dari tim nasional. Untuk apa memelihara orang tidak berkomitmen, nanti tim nasional kita dijual lagi. Orang pemain masih banyak, ngapain kita cari orang-orang kayak gitu. Orang-orang militan kita cari.Sejauh ini semua anak-anak ikut?Ya, mana ada sekarang anak-anak main iklan. Boleh diceritakan, bagaimana melihat pemain-pemain saat ini mengharumkan nama Indonesia?Kan sudah saya bilang ada standarnya, yang mengukur ahlinya. Fisik pelatih fisik saya, mental ada mentalnya, teknik juga kita ada kemampuan tehnik. Semua serba terukur. Jadi saya memilih pemain bukan dengan perasaan, bukan lewat opini opini, bukan karena pakai tato, bukan pakai suap. Selama ini orang banyak tato dipilih atau diopinikan dia bagus. Ukurannya nggak jelas, itu bikin hancur. Sekarang ada ukurannya, yang memilih pemain ahlinya.Seberapa ketat?Sangat ketat, dari 160 jadi 35. Dari 35 baru kita dapat sebelas pemain. Sisanya masuk data kita.Kebanyakan dari anggota tim nasional hasil blusukan. Apakah Anda sudah memantau bakat di Papua?Kan ada dari Papua dua, Moriando sama Ansoba, masuk ke 16 tidak tapi masuk ke 35. Saya memilih pemain bukan latar belakang sosial, bukan latar belakang daerah. Kalau memang perlu orang Jakarta, ya orang Jakarta. Kalau memang yang pantas anak Papua, ya Papua. Saya bukan pengurus haji ada kuotanya, yang Jawa sekian. Saya cari yang terbaik, yang terbaik itu diukur.Sejauh ini ada intervensi?Tidak ada, satupun tidak ada. Mana ada yang berani intervensi ke saya.Pertemuan dengan Irman Gusman membahas apa?Pak Irman Gusman saudara saya. Sebelum itu saya sudah sering ke sana, sudah enam kali. Pak Irman kan tokoh dari Sumatera Barat, sama seperti Pak Emil Salim , Pak Azwar Anas. Sama aja tidak ada masalah.Anda tidak takut pertemuan itu dibilang berbau politik?Orang Indonesia kan latah. Jadi saya nggak boleh ketemu dengan Pak Irman Gusman , silaturahmi nggak boleh walau sebelumnya saya sudah sering ketemu. Enam kali ketemu dia, cuma dulu karena saya orang biasa saja sebelum melatih tim nasional. Kemarin saya ketemu itu membicarakan arisan cup. Jadi, mau bikin turnamen antar nagari, antar kabupaten. Yang juara menjadi tim pemerintah Provinsi Sumatera barat.Jadi itu kerja sama dengan Pak Irman?Bukan kerja sama, tapi mendiskusikan itu. Kan ada lagi orang lain datang, ada Mas Danur (Danurwindo), ada orang kantor gubernur.Jadi nggak takut ke arah sana?Ngapain saya takut.Soal dana Rp 30 miliar, itu untuk apa?Saya tidak tahu jumlahnya. Pokoknya semua kebutuhan Tim Nasional U-19 ditanggung oleh PSSI.

Rekomendasi