Kisah tentang Suku Anak Dalam atau kerap disebut Orang Rimba sampai juga ke negeri orang. Bahkan, cerita soal salah satu suku di tanah air itu membikin penasaran Perdana Menteri (PM) Norwegia, Erna Solberg.Karena penasaran, Erna dalam agenda lawatannya ke Indonesia menyempatkan diri mengunjungi Orang Rimba. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Siti Nurbaya, pun menemaninya menjelajah ke hutan adat Senamat Ulu, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, Rabu.Dari Bandara Bungo, Rabu lalu, Erna menempuh perjalanan sulit buat mencapai lokasi tempat tinggal Suku Anak Dalam. Perlu tiga jam buat sampai ke Hutan Senamat Ulu. Erna juga mesti melewati lereng bukit terjal, bahkan menyeberangi air sungai dipenuhi bebatuan sampai ke lokasi dengan kondisi jalan rusak.Perjalanan ekstrem dilakoni Erna buat sampai di tempat tinggal Orang Rimba cukup menegangkan. Di samping jalan memang berlumpur, hujan juga terjadi hampir sepanjang hari.Erna dikawal puluhan Paspampres RI dan pasukan pengamanan khusus Norwegia. Karena jalan dilalui masih tanah bahkan mendaki dan licin, satu persatu mobil rombongan pun terjebak lantaran selip.Parahnya lagi, buat menuju hutan adat dan pemukiman orang rimba, mobil ditumpangi Erna dan rombongan harus menyeberangi sungai bebatuan. Guna menghindari mobil terjebak di aliran sungai, alat berat pun disiagakan.Sekitar 800 meter mencapai pemukiman orang rimba, dua mobil patroli pengawal menyerah saat mendaki tanjakan menjulang sepanjang 100 meter, karena kondisi jalan licin. Akibatnya mobil pengawalan pun tak bisa melanjutkan perjalanan.Melihat kondisi itu, Erna akhirnya memutuskan berjalan kaki di tengah hujan. Alhasil, sepatu perempuan bertubuh tambun ini penuh lumpur.Meski begitu, Erna terlihat menikmati perjalanan melewati jalan tanah yang lengket. Hanya Paspampres terlihat sibuk menggandeng Erna karena dikhawatirkan tergelincir ketika berjalan. Tetapi, Erna tetap kuat berjalan di tengah hujan. Bahkan dia terkadang tidak mau digandeng pengawal.
Advertisement
Saat tiba di pemukiman Orang Rimba, Erna tak mau menyiakan waktu dan langsung berdialog dengan mereka melalui penerjemah. Dia hanya ingin mengetahui kehidupan orang rimba sebenarnya.Dari dialog itu diketahui Orang Rimba mengalami kesulitan pangan. Mereka tidak bisa berburu babi serta mendapatkan hasil hutan seperti getah balam dan jernang buat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebab sebagian besar hutan sebagai wilayah jelajah mereka sudah habis dibabat dan dipunyai perusahaan besar.Erna juga sempat menanyakan kegiatan apa yang dilakukan Orang Rimba berusia muda di hutan. Dia juga penasaran sejak kapan orang mulai mengalami kesulitan mendapatkan makanan. Perwakilan Orang Rimba mengatakan kepada Erna kalau kehidupan mereka kian terjepit, karena hutan sudah berubah menjadi perkebunan sawit dikelola perusahaan. Orang Rimba juga mengatakan mereka kehilangan mata pencaharian dan berkali-kali mereka mengatakan ingin mengolah lahan pertanian.Bahkan Erna sempat mencium tangan Suku Anak Dalam. Hal itu dilakukan Erna ketika mengunjungi induk (perempuan) Orang Rimba di tenda-tenda pemukiman.Awalnya anak orang rimba menyalami Erna dengan mencium tangan. Kemudian Erna bingung dan bertanya mengapa mereka mencium tangannya. Selanjutnya, anak Orang Rimba menjawab kalau mencium tangan adalah tradisi hormat kepada seseorang.Setelah memahami hal itu, Erna membalas dengan mencium tangan anak Orang Rimba. Bahkan hal itu juga dia lakoni saat bertemu dengan wanita dewasa dan wanita tua di pemukiman Orang Rimba. Dari dialog itu, orang-orang rimba mengatakan mereka saat ini terjepit dan sangat penting sekali menemukan cara buat melindungi hutan supaya orang rimba bisa tetap bertahan di dalam hutan."Kami sudah terbatas mencari penghidupan di hutan, tidak bisa lagi berburu babi serta mendapatkan hasil hutan seperti getah balam dan jernang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena sebagian besar hutan sebagai wilayah jelajah sudah habis," kata salah satu orang rimba.Salah satu perwakilan orang rimba juga mengatakan kepada Erna kehidupan mereka kian sulit. Mereka kesulitan mendapatkan hasil hutan buat dijual dan mencari sumber protein di hutan. Mereka juga merasa terdesak dan dilarang oleh warga desa jika ingin mengelola lahan pertanian."Saya sangat sedih mendengar kondisi orang rimba. Kami menyadari hutan sangat penting, penting sekali untuk dunia," kata Erna Solberg di Senamat Ulu.
