Wawan dipindah ke Serang, warga dibikin berang

Keberadaan Wawan menjadi ancaman buat menggelar pilkada bersih di Banten. Gerak-geriknya mesti diawasi.

Aryo Putranto Saptohutomo
Wawan dipindah ke Serang, warga dibikin berang
Tubagus Chaeri Wardhana Chasan atau kerap disapa Wawan. ©2014 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Sebagian warga Banten pekan ini dibikin gusar. Penyebabnya lantaran kehadiran seorang Tubagus Chaeri Wardhana Chasan atau kerap disapa Wawan.Wawan merupakan suami Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany. Dia juga terpidana kasus suap sidang sengketa pemilihan kepala daerah Kabupaten Lebak di Mahkamah Konstitusi. Kakak Wawan, Ratu Atut Chosiyah, juga bernasib sama, yakni masuk penjara. Dia bersama adiknya terbukti menyogok bekas Ketua MK, Akil Mochtar.Setelah keputusan pengadilan atas perkaranya berkekuatan hukum tetap, Wawan dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin. Di sana dia akan menjalani masa hukuman sebagai ganjaran kejahatannya.Kendati begitu, Wawan mendadak dipindahkan ke Rumah Tahanan kelas IIB Serang, Banten, pada 22 September lalu. Alasan Kepala Rumah Tahanan Kelas IIB Serang, Prihartati, Wawan sengaja diboyong karena dia harus bersaksi dalam sidang perkara korupsi pengadaan alat kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang Selatan, digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Serang. Wilayah dipimpin oleh istrinya. Pemindahan Wawan menjadi tanggung jawab Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.Pemindahan Wawan dikawal petugas dari Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Di dalam Rutan Serang, Wawan ditempatkan di Kamar 14, satu sel dengan warga binaan kasus korupsi lainnya. Meski demikian, bila lazimnya seorang napi dipinjam buat bersaksi, paling lama menghabiskan waktu dua hingga tiga hari. Namun Wawan kabarnya sengaja dibiarkan tinggal di Rutan Serang selama empat bulan. Wajar saja beberapa pegiat antikorupsi di Banten dibikin berang atas kenyataan itu, walau Prihartati menjamin tidak ada keistimewaan diberikan kepada Wawan."Kami memperlakukan warga binaan sama. Artinya tidak ada keistimewaan yang diberikan kepada salah satu tahanan tertentu," kata Prihartati.

Kasubsi Pelayanan Rutan Serang, M Kahfi, mengakui pemindahan Wawan terbilang mendadak. Hanya saja, kehadiran Wawan di Serang menimbulkan pertanyaan. Bahkan, salah satu saksi kunci sekaligus tersangka kasus pengadaan, Dadang M. Epid, mendadak berubah murung. Dadang adalah mantan Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan."Terakhir dia bertemu kami berubah. Dia terlihat pucat, dan tidak lagi terbuka mengenai kesaksiannya, bahwa Airin mengetahui segala ploting proyek di Tangsel yang dilakukan suaminya Wawan," kata Kepala Sekolah Anti Korupsi Tangerang, Muhamad Ibnu alias Beno, di Serpong, Kota Tangsel, kemarin.Menurut para pegiat antikorupsi, sebelumnya Dadang bersikap terbuka dan santai memberikan keterangan dan bukti-bukti permainan kotor suami Airin itu kepada mereka. Bahkan peran Airin dalam sengkarut itu juga diungkap."Dadang itu beda dengan saksi lain yang hanya berucap tanpa bukti. Kalau Dadang menyimpan segala bukti. Kami diminta datang ke stafnya untuk mengambil rekaman dan alat bukti lain tentang keterlibatan Airin dan sejumlah nama, seperti Yuni Astuti, Uus, Agus Marwan, Ahmad Bajuri, Ilham," ujar Beno.Kini, kata Beno, Dadang mendadak jadi pendiam dan kerap mengalihkan pembicaraan. Bahkan menurut Beno, Dadang memberikan informasi kalau anak buahnya sudah ditodong pistol oleh orang memiliki kepentingan atas kasus menyeret nama Airin itu. Menurut dia, dengan kehadiran Wawan di Serang, kemungkinan dia bisa memberikan saran-saran supaya keluarganya tidak terhempas dari puncak kekuasaan. Sebab, istri dan kakaknya, Ratu Tatu Chasanah, serta kerabatnya juga masih ikut bertarung berebut kuasa dalam beberapa pilkada di tanah Banten."Stafnya diakui Dadang sudah ditodong pistol. Kami menduga ada kepentingan politis atas pemindahan Wawan," lanjut Beno.

Sebab, menurut Beno, Wawan adalah orang yang mengendalikan dan mengatur taktik supaya keluarganya selalu mendapat jatah proyek."Akan sangat sulit bangkit Dinasti Banten kalau tanpa Wawan. Ini belum ikhlas kehilangan jabatannya. Entri poin harus menang dulu. Menjadi penting Pilkada ini. Kami sangat khawatir karena Kejagung tak transparan dalam pemindahan Wawan. Logika hukumnya dia adalah saksi, tak mungkin dia diperiksa secara maraton selama empat bulan lamanya dipinjam ke Serang," tutur Beno.Di sisi lain, Koalisi Masyarakat Sipil Kota Tangerang Selatan mencium gelagat pemindahan Wawan dari Lapas Sukamiskin sarat kepentingan politik. Ketua Koalisi Masyarakat Sipil Tangerang Selatan, Benu Novit Naeng menduga pemindahan Wawwan ke Serang telah direncanakan sejak lama, buat menyokong istri dan saudaranya yang bertarung dalam Pilkada."TCW dalam keluarga dinasti Banten adalah mesin politik dalam kegiatan Pilkada. Maka, tak ayal kepindahannya sangat sarat kepentingan. Apalagi dilakukan dalam empat bulan ke depan atau hingga Pilkada selesai," kata Benu.Menurut Benu, bila Wawan mesti dihadirkan sebagai saksi dalam pengadilan, maka tidak perlu tinggal hingga empat bulan.Benu justru khawatir dengan keselamatan dua saksi kunci kasus korupsi pengadaan alkes, Dadang dan Mamak Jamaksari. Sebab menurut dia, keberadaan Wawan di Rutan Serang menekan mental keduanya. Sebab, Dadang dan Mamak memiliki berbagai bukti dan rekaman dapat mengungkap skandal korupsi di Tangerang Selatan dengan keterlibatan Wawan.


"Kejagung dan KPK harus melihat kondisi ini. Sebab, masyarakat telah bereaksi menolak atas kepindahan TCW ke Serang," ujar Benu.Pendapat lain disampaikan Koordinator Tangerang Public Transparency Watch (Truth), Suhendar. Menurut dia, dengan kehadiran Wawan di Banten, meski ada di balik jeruji besi, membuat kondisi di sana menjadi tidak aman lagi. Keinginan warga menggelar pilkada bersih tanpa ada tekanan dari pihak tertentu menjadi terhalang.

"Kejagung harus segera bertindak dan menarik TCW ke Sukamiskin Bandung. Karena untuk menghasilkan Pilkada bersih dan keamanan bagi saksi kunci lainnya," kata Suhendar.

Suara hati warga itu menjadi lecutan, lantaran selama ini tanah Banten seolah tidak menjadi berkah bagi sebagian besar rakyatnya. Potret kemiskinan belum bisa dihapuskan dari provinsi itu. Setelah kasus Wawan dan Atut terbongkar, tentu masyarakat di sana ingin ada perbaikan dan bisa mengejar ketertinggalan, bukan jatuh ke lubang sama. Mereka juga tidak rela kesejahteraan hanya dinikmati dan berkutat di lingkaran trah Chasan Sochib.

Rekomendasi