Kecintaan seseorang terhadap karya seni, tidak jarang justru menjadikan itu sebagai sandaran hidupnya. Seperti halnya Juki Santoso pemuda Desa Jatikapur, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri yang terkenal sebagai perajin wayang kardus.Bahkan hasil produksi wayang Juki telah menyebar hampir ke seluruh pelosok Nusantara. Kenapa wayang kardus, dan bukankah wayang itu seharusnya terbuat dari kulit hewan baik sapi atau kerbau?"Saya gemar cerita pewayangan sejak kecil, saat itu saya ingin memiliki wayang. Namun karena harga wayang mahal akhirnya saya mencoba membuat sendiri dari bahan kardus," kata Juki pada PulseFeed, Selasa (27/10).Dari kecintaan itulah Juki akhirnya mengembangkan menjadi beragam kreasi wayang berbahan kertas kardus. Karyanya yang sudah menyebar luas, akhirnya dapat perhatian dari pemerintah."Alhamdulillah Bu Haryanti (Bupati Kediri) membantu saya, mulai dari komputer untuk mendesain hingga peralatan," kata Juki mengenang.
Juki menceritakan perjalanan hidupnya ketika dia masih kecil, hampir setiap ada kesempatan pertunjukan wayang yang dia bisa jangkau dirinya pasti menonton."Tujuannya menimba ilmu khususnya karakter masing-masing tokoh pewayangan. Setelah belajar pada waktu itu langsung saya praktikan membuat wayang di rumah," tutur Juki.Kemahirannya secara otodidak yang didapat dari kegemarannya tersebut, membuat Juki dikenal sebagai Juki si Wayang Kardus.Menurutnya, prinsip membuat wayang kardus sama saja dengan wayang kulit, hanya berbeda bahan dasarnya.Jenis kertas yang digunakan Juki untuk membuat wayang adalah kardus duplex, yang biasa digunakan untuk membungkus makanan atau kue.
Kertas itu dilipat sedemikian rupa hingga bagian yang berwarna putih menutupi seluruh permukaan, dan kemudian ditatah mengikuti pola.Pola yang sudah terbentuk selanjutnya dilukis sesuai karakter dengan menggunakan cat tembok atau cat kayu. Biasanya dalam pengerjaan Juki tidak sendiri, dia dibantu sang istri yang khusus membantu melukis beberapa ornamen tambahan dalam karakter wayang. Itu pun masih tetap dalam pengawasannya.Seperti halnya membuat wayang kulit, dalam menyungging wayang kardus juga diperlukan ketelitian. Ada pakem-pakem atau ketentuan-ketentuan tertentu yang harus diikuti seperti ukuran tubuh, posisi kepala, posisi tangan, dan sebagainya sehingga wayang berbentuk sesuai keinginan."Dulu saya sempat membuat wayang dari kulit, namun kasian mereka yang tak mampu membeli. Akhirnya saya kembali ke wayang kardus yang harganya cukup terjangkau yakni tak lebih dari Rp 100.000 per wayang. Sementara wayang kulit harganya pasti di atas Rp 300.000," ungkap Juki.
Advertisement
Walau murah tapi tidak murahan, wayang kardus Juki tetap memiliki nilai seni tinggi, dan hasilnya pun tak jauh beda dari wayang kulit biasanya.Seiring perkembangan media sosial, sekira tahun 2011 lalu Juki sudah mulai memasarkan lewat internet. Dibantu Nita kakaknya, wayang buatan Kang Juki terjual di seluruh Indonesia.Selain membuat kerajinan wayang kardus, Juki dengan peralatan yang dia dapatkan dari bantuan pemerintah mulai berkeinginan ilmunya bermanfaat bagi orang lain.Salah satunya Juki juga membuka diri membuat pelatihan atau workshop. Nama Juki sebagai perajin wayang kertas mulai dikenal. Bahkan dirinya sempat diundang acara workshop dan pameran pada acara pagelaran wayang Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Tidak hanya itu yang membanggakan awal Juni lalu, Juki berkesempatan mengikutkan hasil karyanya pada workshop wayang di Dallas, Amerika Serikat."Apa yang saya lakukan ini semata-mata melestarikan kerajinan seni wayang ini agar tidak punah dan generasi penerus ini semakin mencintai budayanya," pungkas Juki.
