Yorrys sebut Ical 'hattrick' gagal

Yorrys membeberkan kegagalan-kegagalan Ical saat memimpin Golkar.

Fikri Faqih
Oleh Fikri Faqih - Reporter
Yorrys sebut Ical 'hattrick' gagal
Silaturahmi KSPSI. Merdeka.com

Ketua DPP Golkar sekaligus Ketua Angkatan Muda Partai Golkar Yorrys Raweyai mengkritik kepemimpinan Aburizal Bakrie (Ical) di Partai Golkar. Menurutnya, selama menjabat sebagai ketum, Ical tidak membawa perubahan untuk partai."Pemimpin yang lima tahun ini yang berbagai macam kebijakan, tidak membawa partai menuju kesuksesan," kata Yorrys yang berkumpul bersama tokoh senior dan tokoh muda Golkar di Gedung Perintis Kemerdekaan, Jakarta, Selasa (15/7).Tokoh-tokoh Golkar berkumpul di Gedung Perintis Kemerdekaan untuk melakukan evaluasi terhadap kepemimpinan Ketua Umum Aburizal Bakrie. Mereka menegaskan bahwa Golkar akan mendukung pemerintahan yang terpilih. Bagi Yorrys, sikap politik dirinya dan sejumlah kolega partai itu bukan menandakan adanya perpecahan di internal Golkar. Apa yang terjadi saat ini dinilai sebuah dinamika dalam berpolitik."Ini dinamika, karena Golkar sudah matang mengelola manajemen konflik, dan ini dinamika demokrasi yang kita bangun dan itu yang sedang kita masuk dalam proses. Artinya keinginan suara untuk melakukan perubahan itu bukan tanpa ada alasan," akunya.Dia juga mengungkapkan sejumlah bukti yang dinilai sebagai kegagalan dalam kepemimpinan Ical. Yorrys merujuk pada proses penetapan Ical sebagai calon presiden dari Golkar hingga perolehan suara di pemilu legislatif 9 April."Mulai dari menetapkan calon presiden dalam Rapimnas kedua. Kemudian dalam catur sukses ketiga mengenai pemenangan pilkada, kan tidak mencapai sukses. Kemudian pemilu legislatif juga gagal. Kemudian pemilu presiden gagal juga kan? Akhirnya menurunkan menjadi wapres gagal juga. Sekarang turun lagi jadi koalisi, gagal juga. Apakah itu bukan kegagalan, adanya malah pemecatan.""Sekarang anda mau bilang apa lagi. Sekarang itu quick count itu salah satu metode dan kita sudah menerapkan itu semenjak 2004. Dari zaman SBY dan digunakan dunia. Dalam legislatif ada ruang untuk bergolak. Kalau pilpres, apalagi cuman dua, gimana bisa ada pergolakan," ungkapnya.

Rekomendasi