Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung tidak mempermasalahkan Aburizal Bakrie (Ical) yang ngotot untuk menjadi ketua umum kembali dalam periode 2014-2019. Namun, Akbar berharap kepada Ical agar mampu melaksanakan pemilihan ketua umum berlangsung secara demokratis dan tidak mengikuti ambisi kepentingan pribadinya."Kan dulu saya juga maju lagi, tapi kalah sama Pak JK, mungkin juga karena berbagai referensi untuk mendukung dia, akhirnya dia menang," kata Akbar di lokasi Munas IX, Nusa Dua, Bali, Senin (1/12).Lebih jauh, Akbar bercerita dan mengakui bila dirinya juga dulu pernah melakukan apa yang dilakukan Aburizal pada saat ini. Yaitu saat menjabat ketua umum dan Munas Golkar 2004, di mana dirinya sebagai incumbent dan melawan Jusuf Kalla. Saat itu, Jusuf Kalla mampu menaklukkan Akbar di arena Munas."Dia (JK) menang, tapi semua dilakukan baik. Yakni voting tertutup, dan saya lihat langsung semua proses, termasuk penghitungan suara," terang Akbar."JK yang menang, saya tetap puas. Cuma istri saya tak puas. Tapi ya tak apa. Mungkin karena istri saya merasa sudah habis-habisan. Istri saya, waktu kami diangkut polisi, dia ikut. Waktu kami dikejar-kejar, juga ikut. Tapi kok saya kalah? Menangis dia. Tapi kan saya harus kuat," imbuhnya.Untuk diketahui, beredar kabar menyebutkan panitia Munas IX Golkar menyiapkan pemilihan dilakukan secara terbuka. Sistem itu tertuang dalam tata tertib pemilihan ketua umum Partai Golkar yang lebih menguntungkan Ical.Artinya masing-masing pemilik suara terbuka menyampaikan suaranya di dalam sidang. Hal ini tak pernah dilakukan oleh parpol manapun, terkecuali hanya ada satu calon. Sementara voting tertutup dilakukan persis dengan saat masyarakat memilih di Pilpres 2014 lalu.
Akbar minta pemilihan ketum secara tertutup seperti Munas 2004
Akbar bercerita dan mengakui bila dirinya juga dulu pernah melakukan apa yang dilakukan Aburizal pada saat ini.
Advertisement
Rekomendasi
