Terlihat Sepele, 5 Aktivitas Rumah Tangga Ini Bisa Tekan Mental Ibu

Lima aktivitas rumah tangga yang sering dipandang remeh ternyata dapat memengaruhi kesehatan mental ibu.

Aditya Eka Prawira
Oleh Aditya Eka Prawira - Reporter
Terlihat Sepele, 5 Aktivitas Rumah Tangga Ini Bisa Tekan Mental Ibu
Ide Usaha Jasa Penulis Konten Daring untuk Ibu Rumah Tangga yang Punya Bayi/ AI (© 2026 Liputan6.com)

Berbagai kegiatan rumah tangga yang sering kali tidak disadari dapat menyebabkan kelelahan mental pada seorang ibu. Tanggung jawabnya tidak hanya terbatas pada pekerjaan fisik, tetapi juga mencakup beban pikiran yang terus menerus ada setiap hari.

Ibu harus mengatur berbagai kebutuhan rumah, menjaga emosi anggota keluarga, dan memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik. Semua hal ini memerlukan energi kognitif dan emosional yang cukup besar. Jika kondisi ini berlangsung tanpa henti, maka dapat memicu stres, meningkatkan kemarahan, menyulitkan fokus, hingga menimbulkan kelelahan emosional. Profesor sosiologi dari University of Melbourne, Lyn Craig, menyatakan bahwa kelelahan yang dialami banyak perempuan tidak semata-mata disebabkan oleh pekerjaan rumah tangga, tetapi juga karena otak yang terus berfungsi untuk merencanakan dan mengingat berbagai kebutuhan keluarga.

"Beban mental ibu adalah pekerjaan berpikir dan emosional yang tidak terlihat, tanpa batas, dan terus berlangsung," ujarnya seperti yang dikutip dari BBC pada Jumat, 3 April 2026.

1. Mengatur Kebutuhan Rumah Tangga

Menangani kebutuhan rumah tangga merupakan salah satu tugas yang paling menguras energi. Seorang ibu biasanya memikirkan berbagai hal secara bersamaan, mulai dari jadwal sekolah anak, pembayaran tagihan, agenda keluarga, hingga persediaan kebutuhan sehari-hari. Meski tampak sederhana, aktivitas ini memerlukan kemampuan untuk merencanakan, mengingat, dan memprioritaskan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Jika tugas ini dilakukan terus-menerus tanpa adanya pembagian peran, pikiran ibu dapat terasa tidak pernah berhenti. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa lelah yang berkepanjangan, mudah tersinggung, dan kesulitan tidur.

2. Menjaga Emosi Anggota Keluarga

Di samping urusan praktis, seorang ibu sering kali berperan sebagai 'penjaga emosi' dalam keluarga. Ia memantau suasana hati anak-anak, memahami kondisi pasangan, dan menjadi penengah saat terjadi konflik. Dalam peran ini, ibu tidak hanya mengelola emosinya sendiri, tetapi juga menyerap tekanan dari orang lain. Ketika anak-anak rewel atau pasangan mengalami stres, ibu sering kali menjadi orang pertama yang mencari solusi. Hal ini mengakibatkan kapasitas emosionalnya cepat terkuras, bahkan saat aktivitas fisik yang dilakukannya tidak terlalu banyak.

"Perempuan sering menjadi pusat dukungan emosional keluarga, sehingga pikirannya tidak pernah benar-benar kosong," ujarnya.

3. Merapikan Rumah yang Cepat Berantakan

Membersihkan rumah adalah kegiatan rumah tangga yang dilakukan hampir setiap hari. Aktivitas ini mencakup menyapu, mengepel, merapikan tempat tidur, hingga mengatur mainan anak. Namun, masalah yang sering muncul adalah kondisi rumah yang cepat kembali berantakan dalam waktu singkat. Pola berulang ini membuat ibu merasa bahwa usaha yang dilakukannya seolah tidak pernah selesai. Situasi ini bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga dapat membebani mental karena terasa monoton dan tanpa jeda.

4. Memasak dan Menentukan Menu

Memasak bukan sekadar kegiatan fisik. Prosesnya dimulai dari merencanakan menu, memeriksa bahan yang ada, menyiapkan, memasak, hingga membersihkan dapur. Selain itu, seorang ibu juga harus mempertimbangkan selera keluarga, kebutuhan gizi anak, dan variasi menu setiap harinya. Banyaknya keputusan kecil yang harus diambil dalam proses memasak ini membuat aktivitas tersebut terasa lebih melelahkan secara mental. "Beban mental bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tetapi juga merencanakan dan mengatur agar semuanya berjalan dengan lancar," ujarnya.

5. Mengantar dan Menemani Kebutuhan Keluarga

Kegiatan di luar rumah seperti mengantar anak ke sekolah, berbelanja, atau menemani kontrol kesehatan juga termasuk kegiatan rumah tangga yang menyita energi. Seorang ibu biasanya harus mengatur waktu dengan cermat, memperhitungkan jarak, kemacetan, hingga barang yang harus dibawa. Jika satu jadwal terganggu, maka seluruh rencana harian bisa ikut berantakan. Tekanan ini sering kali memicu stres tanpa disadari.

"Perencanaan dan pengorganisasian adalah bentuk kerja yang sering tidak terlihat, padahal bisa memicu stres," tambahnya.

Kegiatan rumah tangga

Terlihat Sepele, 5 Kegiatan Rumah Tangga Ini Diam-Diam Bikin Mental Ibu Drop
Ide Usaha Jasa Penulis Konten Daring untuk Ibu Rumah Tangga yang Punya Bayi/ AI © 2026 Liputan6.com

Untuk mengatasi kelelahan mental yang diakibatkan oleh kegiatan rumah tangga, penting untuk menyadari bahwa tanggung jawab tersebut tidak perlu ditanggung sendirian. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan membagi tugas rumah tangga bersama pasangan dan anak-anak sesuai dengan usia mereka. Selain itu, membuat daftar prioritas harian juga dapat membantu mengatur waktu dengan lebih baik.

Menyediakan waktu singkat untuk diri sendiri, yang sering disebut sebagai 'me time', sangat penting untuk menjaga kesehatan mental. Tidak kalah pentingnya, menurunkan standar perfeksionis dapat membantu mengurangi tekanan yang dirasakan.

Luangkan waktu sekitar 10 hingga 15 menit setiap hari untuk beristirahat tanpa gangguan. Hal ini adalah langkah sederhana yang dapat memberikan kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari beban pikiran yang terus-menerus ada.

"Perempuan perlu berhenti menganggap semua hal harus sempurna dan mulai membagi pekerjaan rumah," ungkapnya.

Dengan dukungan dari keluarga dan pola pikir yang lebih realistis, beban mental yang dirasakan dapat berkurang. Dengan demikian, seorang ibu dapat menjalani hari-harinya dengan lebih tenang dan tanpa merasa kelelahan yang berlebihan.

Rekomendasi