Pernah wanprestasi, Indosat ditolak kelola slot satelit 150,5

Penolakan dari pemerintah tersebut diduga karena Indosat pernah wanprestasi dalam memanfaatkan slot tersebut.

Arif Pitoyo
Oleh Arif Pitoyo - Reporter
Pernah wanprestasi, Indosat ditolak kelola slot satelit 150,5
Indosat. ©2012 Indosat

Pemerintah dikabarkan menolak proposal Indosat untuk memanfaatkan slot orbit 105,5 derajat BT. Anak usaha Ooredoo tersebut rencananya akan memanfaatkan slot tersebut untuk satelit barunya, Palapa E.

Indosat, melalui surat yang dikirim ke Kominfo menyatakan komitmennya untuk mengelola slot orbit 105,5 derajat BT.

Penolakan dari pemerintah tersebut diduga karena Indosat pernah wanprestasi dalam memanfaatkan slot tersebut, bahkan sempat dinyatakan hilang oleh International Telecommunication Union (ITU) sehingga bisa dipakai negara lain, padahal slot orbit merupakan sumber daya yang terbatas dan mahal.

Pada 2007, ITU menginformasikan bahwa sejumlah filing satelit Indonesia yang didaftar ke lembaga itu sejak era 1990-an sempat dihapus oleh badan tersebut. Salah satu slot yang sempat dihapus adalah slot orbit 150,5.

Mengetahui hal itu, pemerintah pada 2007 bergerak cepat menyelamatkannya dengan meminta dukungan sejumlah negara lewat forum ITU.

Langkah tersebut diambil karena Indosat terkesan lamban dalam pemanfaatan slot tersebut. Oleh karenanya, pada tahun 2007 silam, pemerintah meminta Indosat mengajukan proposal komitmen untuk mengisi dan memaksimalkan slot orbit 150,5 BT sebelum akhir 2009, bila tidak pemerintah akan menyerahkannya pada Telkom.

"Pemerintah membutuhkan komitmen tersebut karena slot orbit merupakan sumber daya yang terbatas dan mahal," kata Ikhsan Baidirus, Direktur Kelembagaan Internasional saat itu.

Namun, slot ini sendiri tak kunjung jelas pemanfaatannya sehingga terancam kembali di-surpressed. Slot 105,5 BT hanya dipakai transit satelit bekas dan tidak ada satelit baru diluncurkan ke orbit tersebut. Slot orbit ini sendiri digunakan untuk transit Palapa C2 setelah satelit Palapa D menggantikan orbit Palapa C2 di 113 BT. Adapun, Palapa C2 sudah sudah habis masa edarnya di 2011 lalu.

Dan Indosat, di tahun itu, kemudian menyatakan dan menegaskan keseriusannya dalam memanfaatkan slot orbit tersebut. Bahkan, Indosat sudah mengirimkan rencana Indosat tentang slot 150,5 BT di mana isinya adalah komitmen Indosat untuk meluncurkan satelit Palapa E di 2011.

Namun, proposal yang dibuat menjawab teguran pemerintah yang mempertanyakan komitmen perseroan, juga akhirnya tidak terwujud hingga 2013 ini. Dan karena umur perpanjangan ke ITU adalah tiap dua tahun, di 2013 ini Indosat menyatakan komitmennya meluncurkan Palapa E.

Menurut Presiden Direktur Indosat Alexander Rusli, Indosat bukan hanya berupaya untuk mempertahankan slot orbit 150.5BT tetap menjadi milik Indonesia, namun juga untuk meningkatkan nilai slot orbit tersebut bagi Indonesia.

“Beberapa langkah konkret yang dilakukan antara lain Indosat telah menandatangani perjanjian awal dengan Orbital Sciences. Perjanjian ini merupakan bagian dari kontrak yang akan ditandatangani dan disaksikan bersama oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono,” tambahnya.

Rekomendasi