Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) segera melakukan digitalisasi aksara Pegon, supaya tidak punah digilas perkembangan dunia digital.
Aksara Pegon adalah huruf Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa misalnya, dengan kaidah-kaidah tertentu. Selama ini aksara Pegon digunakan dalam penulisan naskah-naskah kuna di kalangan pesantren dalam bahasa Jawa. Bahkan penggunaan aksara Pegon juga tersebar di berbagai daerah di nusantara hingga semenanjung Melayu.
Gagasan digitalisasi lahir, setelah pertemuan antara tim PANDI dan pengasuh Pondok Pesantren Al Ikhlash, Mulyorejo, Dalegan di Gresik, Jawa Timur, Sabtu lalu (21/11). Hadir dalam pertemuan itu, PANDI diwakili antara Ketua PANDI Prof Yudho Giri Sucahyo dan Heru Nugroho. Sementara pihak pondok pesantren diwakili KH Alfin Sunhaji dan pegiat aksara nusantara, Diaz Nawaksara.
Prof Yudho mengatakan, gagasan ini merupakan bagian dari program PANDI bertajuk 'Merajut Indonesia melalui Digitalisasi Aksara Nusantara'. Program ini ingin melakukan digitalisasi aksara Jawa, Bali, Sunda, Rejang, Batak, dan Bugis untuk melestarikan bahasa-bahasa daerah agar tidak terkikis zaman.
"Digitalisasi akan memudahkan proses pembinaan dan pengembangan aksara Pegon karena bisa diakses dan tersedia di perangkat mobile dan merupakan bentuk pelestarian budaya lokal agar bisa tetap hidup dan mengikuti zaman," ujar Yudho dalam keterangan resminya, Senin (23/11).
Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Ada lebih dari 700 bahasa daerah yang tersebar di seluruh pelosok negeri, yang masing-masing memiliki aksara sendiri.
Digitalisasi akan terus digerakkan oleh PANDI bersama dengan komunitas aksara terkait agar semakin banyak masyarakat yang menggunakan aksara leluhurnya, supaya aksara daerah lestari.
Advertisement
Melestarikan Budaya Pesantren
KH Alfin Sunhaji mengatakan rencana digitalisasi ini ibarat gayung bersambut.
"Kami mendukung penuh gagasan ini (digitalisasi aksara) karena bisa melestarikan budaya pesantren di era digitalisasi. Yang penting arahnya positif kami mengikuti, yang penting jangan ke mana-mana,” ucap KH Alfin Sunhaji yang juga Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) cabang Gresik dan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Dalegan.
Makna Pegon berasal dari lafal Jawa 'pego', yang berarti menyimpang, karena memang menyimpang dari literatur Arab dan Jawa. Karena itu, dalam rencana digitalisasi tersebut timbul persoalan bahwa aksara Pegon belum memiliki standarisasi di kalangan penggunanya. Ada sejumlah perbedaan antara pengguna di komunitas tertentu dan pengguna di komunitas lainnya.
Namun, dalam satu komunitas yang sama, mereka bisa memahami aspek keterbacaan aksara Pegon yang digunakan. Karena itu, dalam program digitalisasi ini tidak akan dilakukan penyeragaman kaidah penggunaan aksara Pegon melainkan mengakomodasi sejumlah versi sebagaimana yang sudah lazim digunakan oleh komunitas yang berbeda.
