Punya Gelar Doktor Sekalipun, Sulit Tembus di Perusahaan Bergaji Gede Ini

Di perusahaan ini gelar doktor tak menjadi keistimewaan sendiri. Ada banyak variabel syarat yang harus dipenuhi.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Punya Gelar Doktor Sekalipun, Sulit Tembus di Perusahaan Bergaji Gede Ini
Punya Gelar Doktor Sekalipun, Sulit Tembus di Tempat Bergaji Gede Ini (ilustrasi dibuat dengan ChatGPT)

OpenAI menegaskan pendekatan rekrutmen yang tak biasa di industri teknologi. Alih-alih menekankan gelar bergengsi atau pengalaman formal di bidang AI, perusahaan pengembang ChatGPT ini lebih memprioritaskan rasa ingin tahu tinggi dan inisiatif mandiri dalam mencari talenta baru.

Nick Turley, Head of Product ChatGPT di OpenAI, mengatakan dalam podcast resmi perusahaan pekan ini bahwa kualitas terpenting pada kandidat adalah rasa ingin tahu.

“Itu hal nomor satu yang saya cari,” kata Turley dikutip Business Insider, Senin (7/7).

“Dunia AI penuh ketidakpastian. Hambatannya bukan pada menemukan jawaban, tapi pada kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat,” tambahnya.

Menurut Turley, pendekatan ini penting karena teknologi AI berkembang sangat cepat. Insinyur perlu memiliki kerendahan hati untuk mengakui batas pengetahuan mereka dan kemampuan beradaptasi untuk terus belajar.

Mark Chen, Chief Research Officer OpenAI, mendukung pandangan itu. Ia mengakui saat bergabung pada 2018, ia sendiri tidak memiliki latar belakang formal di bidang AI.

“Saya masuk sebagai resident tanpa banyak pelatihan AI. Sekarang kami jarang sekali mewajibkan doktor di AI,” ungkapnya.

Chen menekankan bahwa yang dicari OpenAI adalah orang dengan kemampuan untuk melihat masalah yang belum ditangani dan mengambil inisiatif untuk menyelesaikannya.

“Intinya adalah dorongan untuk bilang, ‘Ini masalah yang belum ada yang atasi. Saya akan langsung selesaikan,’” jelasnya.

Budaya kerja semacam itu juga diakui oleh mantan VP produk konsumen OpenAI, Peter Deng. Dalam wawancara terpisah, Deng menekankan bahwa ia menilai rekrutmen gagal jika enam bulan setelah bergabung seseorang masih menunggu arahan.

“Kalau dalam enam bulan saya masih harus kasih tahu harus ngapain, berarti saya salah rekrut,” kata Deng.

Pendekatan ini sesuai dengan cara tim OpenAI mengembangkan ChatGPT, yang menurut Turley lahir dari sprint ala hackathon. Tim lintas fungsi, termasuk dari divisi infrastruktur dan superkomputer, bergerak cepat untuk meluncurkan produk.

“Kami punya banyak orang dengan agency yang bisa ‘ship’,” kata Turley. “Itulah yang membuat OpenAI unik.”

Pendekatan rekrutmen OpenAI menyoroti perubahan paradigma di industri AI, di mana kemampuan teknis bukan lagi satu-satunya tolok ukur. Sebaliknya, perusahaan menekankan pentingnya karakter, rasa ingin tahu, dan kemandirian dalam memecahkan masalah kompleks.

Rekomendasi