Ekonom: Lebih baik tarif listrik naik daripada BBM

Kenaikan TDL untuk rumah tangga belum dilakukan pemerintah semenjak 2004.

Bimo Pratomo
Oleh Bimo Pratomo - Reporter
Ekonom: Lebih baik tarif listrik naik daripada BBM
Seorang petugas PLN sedang memperbaiki jaringan listrik. dok/PulseFeed

Pengamat Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Anggito Abimanyu, menilai kenaikan tarif dasar listrik (TDL) lebih penting untuk dinaikkan daripada bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. 

Pasalnya, kenaikan TDL untuk rumah tangga belum dilakukan pemerintah semenjak 2004.

Menurut dia kenaikan BBM lebih mendorong kenaikan barang pendukung lain dibandingkan kenaikan TDL. Sehingga kenaikan listrik lebih rendah pengaruhnya pada kenaikan harga-harga di pasar.

"Kalau listrik naik, tinggal pemakaian dimatikan saja dan aktifitas masih bisa jalan. Namun kalau BBM tidak dipakai maka kegiatan tidak jalan," ujarnya saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (20/3).

Anggito juga menjelaskan bahwa subsidi listrik lebih tepat sasaran dibandingkan BBM. Hal ini disebabkan pengawasan terhadap konsumsi BBM lebih sulit.

Subsidi listrik, lanjut dia, saat ini hampir sudah mendekati Rp 100 triliun. Kondisi anggaran subsidi ini terus membengkak semenjak 2004 yang belum pernah dilakukan kenaikan.

Anggito menambahkan subsidi listrik makin diperparah dengan pengelolaan PLN yang kurang baik dan tidak sesuai dengan APBN.

"PLN juga tidak disiplin karena apa yang ditentukan oleh APBN seperti seberapa growth, losses dan lain sebagainya itu selalu meleset," terangnya.

 
Rekomendasi