Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi baru saja kembali dari lawatan ke Yordania selama tiga hari. Dia mengabarkan kerajaan terpandang di Timur Tengah itu memberikan akses distribusi khusus bagi produk-produk Tanah Air di Pelabuhan Akaba, wilayah timur laut negara itu, dekat Laut Merah.
Bayu menyatakan misi dagang tersebut merupakan usaha pemerintah melakukan diversifikasi pasar ekspor selain dari negara tujuan tradisional seperti China, Amerika Serikat, dan Eropa. Karena lokasi geografisnya, akses produk asal Indonesia bisa menjangkau kawasan sekitar Laut Merah, termasuk Palestina.
"Kita mendapat sambutan sangat baik sekali dari Pemerintah Yordania, dan mereka memberi fasilitas khusus kepada Indonesia untuk menjadikan Yordan sebagai hub pusat distribusi. Sebagai hub regional, Yordania bisa melayani Suriah, Palestina, Mesir, Libanon, Turki bagian selatan, mungkin juga ke Irak," papar Bayu saat ditemui di kantornya, Jumat (30/11).
Dia menyatakan barang buatan Indonesia yang digemari warga Timur Tengah kebanyakan adalah produk konsumsi, contohnya permen, jeli. Selain itu bahan bangunan, perkakas rumah tangga, serta olahan karet seperti ban cukup dilirik.
Selain ke Yordania, Indonesia juga menjajaki kerja sama distribusi dengan pemerintahan Uni Emirat Arab, yaitu melalui Pelabuhan Kota Dubai. Dari sana, produk Tanah Air akan dikirim ke Oman, Qatar, sampai negara-negara di kawasan pantai Timur Benua Afrika.
Meski demikian, Bayu menilai peluang ini terancam mubazir bila pengusaha dalam negeri masih enggan melirik pasar ekspor. Sejak tiga tahun terakhir dia menilai orientasi produsen Indonesia lebih suka memproduksi barang untuk kebutuhan domestik saja. "Salah satu tantangan, pengusaha kita masih enggan melakukan hal-hal seperti itu, pergi ke UEA, Dubai dijadikan sebagai hub untuk menjangkau pasar-pasar lain," ujarnya mengkritik.
Akibat rendahnya minat ekspor, surplus perdagangan negara ini dengan Uni Emirat Arab turun drastis. Tahun lalu, surplus Indonesia dengan UEA sekitar USD 1,5-1,8 miliar. Namun akibat impor minyak meningkat, dan ekspor dari Indonesia stagnan, surplus itu pada 2012 turun drastis. "Tahun ini, surplusnya drop sampe bulan Agustus hanya USD 15 juta," ungkapnya.
