Industri semen berharap limpahan proyek MP3EI

Dengan pertumbuhan 10 persen, ASI berharap konsumsi semen domestik tahun ini bisa mencapai 60 juta ton.

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Industri semen berharap limpahan proyek MP3EI
Semen. ©2012 Merdeka.com/dwi narwoko

Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menargetkan pertumbuhan industri mencapai 10 persen tahun ini. Permintaan tersebut lebih tinggi dibanding 2012.Ketua ASI Widodo Santoso mengakui target tahun ini lebih moderat dibanding capai tahun lalu. Sepanjang 2012, pertumbuhan industri semen mencapai 14,3 persen dengan total konsumsi mencapai 54,9 juta ton.Dengan pertumbuhan 10 persen, ASI berharap konsumsi semen domestik tahun ini bisa mencapai 60 juta ton. Sektor properti merupakan salah satu faktor yang diharapkan pelaku industri bisa meningkatkan permintaan semen."Penopang pertumbuhan industri ini kami perkirakan proyek (infrastruktur) MP3EI dan properti. Orang Indonesia kan masih butuh membangun rumah," kata Widodo di Bidakara, Jakarta, Selasa (12/2).Pria yang juga menjabat sebagai direksi Semen Gresik ini menyatakan konsumsi domestik dapat dipenuhi industri dalam negeri karena kapasitas produksi telah meningkat. Tahun ini, mencatat investasi pabrik semen dilakukan Semen Padang, Bosowa, Anhui, dan Merah Putih. Sehingga kapasitas produksi nasional di akhir tahun nanti diharapkan mencapai 67 juta ton.Selain itu, mayoritas pelaku industri semen sedang memikirkan pasokan energi yang lebih efisien. Salah satu pengganti BBM yang sedang dipikirkan adalah batu bara. "Untuk efisiensi energi kebutuhan batu bara kita coba pakai yang low kalori," ungkapnya.Berdasarkan data ASI, tahun lalu Pulau Jawa menjadi wilayah paling rakus semen. Konsumsinya mencapai 30 juta ton atau setara 55,1 persen total konsumsi semen domestik. Berikutnya Sumatra di urutan kedua dengan konsumsi 12 juta ton atau 21,8 persen.Setelah itu berturut-turut, Sulawesi berada di posisi ketiga dengan konsumsi 4,11 juta ton (7,4 persen), Kalimantan 4,07 juta ton (7,4 persen), Nusa Tenggara 3,16 juta ton (5,7 persen), serta Maluku dan Papua 1,09 juta ton (2,2 persen).

Rekomendasi