Di saat pemerintah belum memberi sinyal akan tawaran kerja sama perjanjian liberalisasi perdagangan (Free Trade Agreement/FTA) dengan Uni Eropa dan perjanjian kerja sama Asia Pasifik (TPP) yang dinisiasi Amerika Serikat, pengusaha justru meminta pintu liberalisasi dibuka.
Adalah Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) yang mendesak pemerintah mempercepat pembahasan FTA dengan Uni Eropa. Pengusaha garmen dan tekstil Tanah Air juga berharap pemerintah tidak terlalu lama menimbang masuk perjanjian kerja sama Asia Pasifik yang digagas AS.
Ketua Umum API Ade Sudrajat sangat yakin liberalisasi ke Eropa dan Amerika akan menguntungkan industri tekstil nasional. Sebab ekspor produk ke dua kawasan itu berpotensi meningkat.
Selain itu, dia mengklaim kerja sama ini akan diiringi proses alih teknologi dan peningkatan kapasitas produksi. Dengan demikian penyerapan tenaga kerja juga turut meningkat.
"Free trade ini merupakan daya ungkit, dapat meningkatkan kapasitas produk, daya saing, dan menyerap tiga kali lipat pekerja untuk sektor tekstil dan produk tekstil," ujar Ade selepas membuka Musyawarah Nasional API di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (18/4).
Apa yang membuat pengusaha tekstil mendorong dibukanya liberalisasi dengan Uni Eropa dan AS? Ternyata API mendapat bisikan dari mitra bisnis di China agar mengupayakan FTA dengan Eropa. Sebab, kedua wilayah itu serapan produk tekstilnya masih sangat tinggi imbuh Ade.
"Supplier mesin pintal dari China dan Korea Selatan, semua bilang jangan lupakan pasar Amerika dan Eropa," cetusnya.
Ade menyadari, perjanjian liberalisasi tidak begitu saja dilakukan. Karena Uni Eropa atau Amerika pastinya meminta ganti sektor lain untuk dimudahkan masuk pasar Tanah Air. Bahkan Kementerian Perdagangan sudah sering menyatakan tidak terlalu setuju bila Indonesia bergabung dengan TPP.
"Kami minta segera dinegosiasikan dengan FTA dengan EU dan Amerika, meski harus diakui ada beberapa hal yang sangat sensitif (dalam perjanjian itu). Tapi jika dalam 10 tahun (FTA terwujud) bisa tembus 5.000.000 pekerja kalau bisa kita lakukan," ungkapnya.
Menteri Perindustrian MS Hidayat mengapresiasi permintaan pelaku usaha tekstil. Dia mengakui sektor industri padat karya ini menyumbang besar untuk ekonomi Indonesia, karena ekspor produk garmen, pakaian jadi, benang, dan tekstil secara total menyumbang 10,6 persen ekspor nonmigas tahun lalu.
"Industri tekstil itu andalannya pemerintah untuk bisa bersaing secara internasional," kata Hidayat.
Hanya saja, Menperin menyadari tidak mudah memutuskan soal FTA karena melibatkan beberapa kementerian. Pihaknya untuk sementara memfasilitasi peremajaan mesin dan memberikan jalan agar industri mendapat rujukan negara tujuan ekspor baru.
"Kita akan upayakan optimalisasi pasar-pasar tujuan ekspor baru, khususnya dengan negara-negara dari kawasan Eropa. Serta industri tekstil akan kita fasilitasi dalam keikutsertaan pada event pameran Internasional," tuturnya.
Dalam catatan API, industri tekstil masih merupakan sektor yang penting bagi perindustrian Indonesia. Ade mengklaim perusahaan hulu sampai hilir tekstil sejauh ini menyerap 1,4 juta pekerja. Meski produksi tekstil pada 2012 menurun 5,4 persen dibanding tahun sebelumnya, terjadi peningkatan volume ekspor menjadi senilai USD 12,4 miliar.
