Rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi yang akan ditetapkan pada bulan depan merupakan langkah yang paling mudah dalam mengurangi beban subsidi BBM yang diperkirakan mencapai Rp 300 triliun tahun ini.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan saat ini subsidi BBM tidak tepat sasaran. Pasalnya, hampir 70 persen subsidi dinikmati oleh kalangan orang mampu yang dapat membeli BBM dengan harga keekonomian.
"Ini cara yang paling mudah, meski tidak gampang," ujar dia di Malang, senin (6/5).
Namun, kata Hatta, adanya kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi haruslah dibarengi dengan program perlindungan sosial bagi masyarakat yang kurang mampu. "Tidak boleh, mereka semakin tergerus, apalagi jatuh. Apabila kebijakan harga BBM tidak dibarengi program perlindungan sosial, maka kemiskinan akan makin meningkat. Ini yang tidak kita harapkan," tegas dia.
Untuk itu, kata Hatta, adanya paket perlindungan sosial merupakan suatu cara agar masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi dapat bertahan. "Harus ada paket perlindungan sosial kepada masyarakat yang kena dampak paling tinggi. Beasiswa dan aneka bantuan kepada masyarakat miskin harus dinaikkan," kata dia.
Hatta menambahkan program pembangunan infrastruktur pedesaan, serta program memajukan sektor pendidikan terutama memberikan beasiswa kepada masyarakat merupakan program yang sangat penting untuk meningkatkan daya saing.
"Kalau ada langkah penghematan BBM, maka kita utamakan program-program tersebut. Setelah itu dibarengi dengan peningkatan infrastruktur pedesaan, memajukan sektor pendidikan serta tidak lupa memberikan beasiswa masyarakat," pungkas dia.
