Bank daerah perlu tingkatkan modal hadapi MEA 2015

Permodalan menjadi kebutuhan untuk memperluas jaringan dan memperkuat struktur modal.

Sri Wiyanti
Oleh Sri Wiyanti - Reporter
Bank daerah perlu tingkatkan modal hadapi MEA 2015
Bank Jabar. wikipedia.org.©2013 Merdeka.com

Ketua Asosiasi Bank-Bank Daerah (Asbanda) Eko Budiwiyono melihat perbankan daerah (BPD) harus berlomba-lomba untuk meningkatkan struktur permodalan. Strategi tersebut dilakukan agar perbankan daerah (BPD) bisa lebih berdaya saing.

"Permodalan saya kira salah satu hal yang terus tingkatkan kelembagaan, bagian daripada pilar BPD Regional Champion adalah ketahanan modal," kata Eko di Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa (4/6).

Selain itu, penambahan modal perlu dilakukan oleh BPD agar siap bersaing di era perdagangan terbuka se-ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 mendatang. Pada masa itu arus ekspansi usaha negara di ASEAN tidak akan terbendung sehingga akan melindas bagi yang tidak siap.

"Modal BUKU 1 sampai 4 mempengaruhi (perluasan) jaringan, memperkuat struktur permodalan kita. Harus punya strategi yang baik salah satunya memupuk permodalan sampai masa transisi (keterbukaan sektor keuangan ASEAN tahun 2020) 2018 berakhir," papar Eko.

Saat ini mayoritas dari 14 BPD masih bermodal inti di bawah Rp 1 triliun, dan baru dua bank daerah saja yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia, yaitu Bank Jabar Banten (BJB) dan Bank Jatim. Sedangkan untuk kelompok bank berdasarkan permodalan atau BUKU, baru BJB saja yang sudah masuk BUKU 3.

"Sekarang BUKU 3 baru Bank Jabar, mungkin Bank Jatim dalam waktu yang gak lama pasti dia bisa (masuk BUKU 3)," tutur Eko.

Untuk Bank DKI sendiri, Eko mengaku masih berada di BUKU 2 dengan modal inti sebesar Rp 2,5 triliun. Kondisi ini mendorong Bank DKI untuk berniat melantai di bursa.

"Bank DKI masih di BUKU 2. Rp 2,5 triliun modal inti kita, ingin tambahan modal, IPO sedang mohon izin agar masuk BUKU 3," tutup Eko yang juga merupakan Direktur Utama Bank DKI.

Rekomendasi