Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik meluncurkan buku testimonial berjudul "Jero Wacik di Mata 100 Tokoh". Buku ini dia buat bersama tim yang diketuai Ketut Suardhana Linggih sejak April lalu. Sebagai hadiah ulang tahunnya ke-64.
Jero mengaku, karena usianya semakin bertambah, maka dia ingin introspeksi diri dan mencari tahu apa pandangan sahabat terhadap sepak terjangnya. Baik di bidang politik maupun kenegaraan sebagai menteri.
"Buku ini saya niati waktu saya ultah April lalu, untuk melakukan introspeksi, apa yang sudah saya lakukan, bagaimana saya menjalin persahabatan, apa persepsi mereka tentang saya, muncul lah banyak komentar-komentar para tokoh," ujarnya di sela-sela peluncuran buku di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Minggu (7/7).
Buku setebal 322 halaman ini berisi komentar para kolega, rekan kerja, teman kuliah, dan rekan bisnis. Mayoritas menjelaskan pandangan mereka mengenai sosok Jero sejak masih menjadi mahasiswa di ITB, pengusaha bidang pariwisata di Bali, hingga akhirnya masuk ke Partai Demokrat dan menjadi menteri dua periode.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi pengantar, disusul pejabat tinggi seperti Wakil Presiden Boediono, Ketua MPR Taufiq Kiemas almarhum, hingga Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.
Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat ini mengaku terkejut karena 100 tokoh yang berkomentar di bukunya rata-rata memberi pendapat positif. Dia menilai, hal itu buah dari gaya komunikasinya yang mengedepankan sikap santun dan selalu optimis.
"Membaca komentar di buku ini saya surprise, saya terharu. Itulah buah dari cara saya bersahabat kepada teman-teman puluhan tahun, saya mengedepankan hidup positif, saya tidak mencari-cari kesalahan sahabat saya," tuturnya.
Dia pun mengklaim bahwa buku ini buah kedekatannya dengan PDIP meski partai pimpinan Megawati itu memilih beroposisi dari pemerintahan SBY. Terbukti almarhum Taufiq Kiemas dan Pramono Anung turut berkomentar. Jero mengaku dia tak pilih-pilih dalam berkawan.
"Saya bersahabat lintas partai, lintas suku, lintas agama, jangan perbedaan-perbedaan jadi alasan untuk kita tidak bisa akrab, seperti PDIP oposisi pun tak apa," tandasnya.
