Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan pembangunan smelter alumina di Bintan, Kepulauan Riau, bakal menjadi proyek percontohan di Indonesia barat. Instalasi pengolahan dan pemurnian mineral tambang yang dibangun oleh PT Bintan Alumina Indonesia dan Nashan Group of China bakal dilengkapi oleh pelabuhan, pembangkit listrik, dan jalan.
Investasi mereka keseluruhan bisa sampai USD 5 miliar," ucap Hidayat ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (10/4).
Menurut Hidayat, proyek pelabuhan telah ditender. Namun, sayang, pembangunan smelter sedikit tertunda karena pembebasan lahan. "Ditunda satu atau dua bulan."
Direktur Bintan Alumina Indonesia Santoni mengatakan ground breaking pembangunan smelter akan dimulai pada Mei 2014. Pembangunannya membutuhkan sekitar 2.500 pekerja. "Sebagian ekspor dan sebagian untuk lokal," ucap Santoni.
Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan smelter ini akan mempunyai kapasitas 2,1 juta ton per tahun. "Membangun di Bintan dengan kapasitas 2,1 juta ton pada 2018 mendatang. Tahun depan 700 ribu ton dulu karena ini bertahap," katanya.
