Negara-negara anggota ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) dinilai paling siap menghadapi liberalisasi ekonomi. Dengan jumlah penduduk terbesar di ASEAN, Indonesia dianggap memiliki daya saing paling kuat.
Pendapat itu dikemukakan Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) Wimboh Santoso kepada wartawan saat akan kuliah perdana, di Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rabu (20/8).
"Negara-negara di dunia ini menganggap Asia Tenggara mempunyai peran yang sangat penting. Karena negara-negara di ASEAN terus menunjukkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang baik," ujarnya.
IMF menilai negara-negara di Asia Tenggara paling mampu memperoleh keuntungan di tengah persaingan liberalisasi ekonomi.
"Selama ini dunia mengambil Eropa sebagai model untuk menghadapi pasar global. Ternyata di Eropa kacau. ASEAN justru yang membaik ekonominya," katanya.
Wimboh mengatakan, saat ini tingkat pertumbuhan ekonomi di ASEAN rata-rata mencapai 5 persen. Alumnus Fakultas Ekonomi UNS tersebut menilai tingkat pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara cukup stabil. Sementara pertumbuhan ekonomi negara-negara Eropa hanya sekitar 3-4 persen per tahun.
"Indonesia sebagai salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang cukup diperhitungkan. Selain jumlah penduduk terbesar, kekayaan alam di Indonesia juga paling besar dibanding negara-negara Asia Tenggara yang lain," paparnya.
Di sisi lain, ada yang harus diwaspadai. Dengan jumlah penduduk besar, Indonesia berpotensi menjadi sasaran empuk pemasaran hasil produksi negara lain. Namun pihaknya yakin produk Indonesia tetap mampu bersaing di dalam negeri sekaligus menembus pasar ekspor.
