Adanya sebuah minimarket di suatu pedesaan ternyata tidak menjadi indikator membaiknya perekonomian. Justru keberadaan minimarket tersebut mengancam eksistensi sejumlah warung kelontong atau pasar tradisional yang ada di pedesaan.
Demikian diungkapkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Sofyan Djalil.
"Itu (adanya minimarket menunjukkan suatu desa maju) indikator yang keliru, seolah kalau sudah ada Indomaret sebuah desa sudah maju," ujar Sofyan kepada wartawan di Kantor Bappenas, Jakarta Pusat, Selasa (20/10).
Sayangnya, lanjut Sofyan, stigma tersebut seakan sudah terbentuk di tengah masyarakat.
"Hampir 80 persen orang di sini adalah orang desa. Rindu desa untuk dikunjungi pas lebaran. Tapi untuk kembali ke sana no thanks, kalau ada Indomaretnya berarti desa lebih baik," tutur Sofyan.
"Indomaret harus kita stop. Terjadi distorsi. Satu Indomaret bisa membunuh berapa warung-warung kecil," tegasnya.
Menurut data dari Indeks Pembangunan Desa 2014 milik Kementerian PPN/Bappenas, sebanyak 8.669 desa yang belum mempunyai pertokoan, minimarket, maupun toko atau warung kelontong.
