Laba Bersih Peruri Tembus Rp360 Miliar Sepanjang 2019

Laba usaha Peruri tahun 2019 sebesar Rp595 miliar. Meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya Rp456 miliar. Sehingga Peruri meraup laba bersih Rp360 miliar, naik 25 persen dari tahun 2018 yakni Rp288 miliar.

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Laba Bersih Peruri Tembus Rp360 Miliar Sepanjang 2019
Peruri. ©2015 Merdeka.com

Pendapatan usaha Perum Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) tercatat sebesar Rp3,9 triliun sepanjang 2019. Jumlah ini meningkat 23 persen dari tahun 2018 yang hanya Rp3,1 triliun.

"Sesuai prognosa 2019, pendapatan Peruri Rp3,9 triliun," kata Direktur Pengembangan Usaha Peruri, Fajar Rizki di Kantor BUMN, Jakarta, Rabu (8/1).

Laba usaha Peruri tahun 2019 sebesar Rp595 miliar. Meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya Rp456 miliar. Sehingga Peruri meraup laba bersih Rp360 miliar, naik 25 persen dari tahun 2018 yakni Rp288 miliar.

EBITDA Peruri tercatat sebesar Rp943 miliar atau meningkat 22 persen dibandingkan 2018 yang hanya Rp770 miliar. Sehingga total aset perusahaan BUMN tersebut mencapai Rp5,46 triliun. Jumlahnya meningkat persen dibandingkan 2018 yang mencapai Rp5,05 triliun.

Fajar menyebut selama ini kondisi bisnis Peruri terbilang fluktuatif lantaran ketergantungan terhadap order pencetakan uang rupiah di Bank Indonesia (BI). Jumlahnya sekitar 60 persen sampai 70 persen.

"Sehingga perkembangannya mengikuti jumlah pesanan cetak uang rupiah," kata Fajar.

Tak Terpengaruh Sistem Non Tunai

Di tengah era transaksi non tunai, Fajar mengatakan Peruri tidak kekurangan order pencetakan uang fisik. Sebab hal itu baru berkembang di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Makassar dan lainnya.

Sebagai negara kepulauan, kebutuhan uang fisik masih diminati di berbagai daerah. Permintaannya sesuai dengan pertumbuhan ekonomi yang sedang berjalan.

"Kalau kota yang lain masih (uang) fisik dan permintaannya masih tumbuh," ujar Fajar.

Dia menambahkan, hasil seminar Menteri BUMN Rini Soemarno di Jerman tahun lalu menunjukkan, kebutuhan uang fisik secara global masih tumbuh sekitar 2-3 persen. "Hasil risetnya masih tumbuh antara 2-3 persen secara dunia," sambung Fajar.

Rekomendasi