Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyatakan bahwa likuiditas pihaknya masih kuat. Di mana, Loan To Deposit Ratio (LDR) BRI masih terjaga di kisaran 90 persen dan Capital Adequacy Ratio (CAR) berkisar pada 18 persen.
"BRI sampai dengan hari ini itu sangat sehat," jelas Direktur Utama BRI, Sunarso, dalam Live Stream Vol 4 bertajuk Indonesia Consumer Outlook: Understanding The Market From Nation's Biggest Bank, Jakarta, Sabtu, (27/6).
Namun demikian, Sunarso lebih menekankan dari sisi permintaan (demand) masih terganggu akibat pandemi Covid-19, yang diharapkannya segera pulih. Menurut Sunarso, saat masyarakat mulai kembali beraktivitas dalam masa transisi PSBB ini, maka saat itu pula demand mulai terbentuk.
Di mana, masyarakat mulai menggunakan uang mereka untuk berbagai hal yang lebih bervariatif, sehingga demand pasar mulai terbentuk. Dari demand pasar ini maka sisi produksi akan terpacu, sehingga meningkatkan demand terhadap kredit. Kemudian perekonomian mulai berputar.
"Ketika orang mulai beraktivitas lagi, mulai berinteraksi lagi untuk menggerakkan ekonomi maka mulai timbul keinginan untuk beli ini beli itu, timbul kebutuhan makan lebih bervariasi dan mulai pergi lagi ke tempat rekreasi, dan kemudian itu akan memacu produksi dan nanti akan meningkatkan demand terhadap kredit," bebernya.
"Demand kredit itu butuh likuiditas, dan begitu seterusnya, maka itulah yang akan memutar ekonomi kita untuk tumbuh," sambung Sunarso.
Advertisement
Dirut BRI Minta Masyarakat Bantu Pemulihan Ekonomi Indonesia Dengan Berbelanja
Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI), Sunarso, meminta peran serta masyarakat dalam membantu pemulihan ekonomi Indonesia imbas virus corona. Salah satunya dengan meningkatkan konsumsi masyarakat.
"Orang menarik uangnya dari bank, ada dua motif. Satu untuk dibelanjakan karena dia memang sekarang sedang tidak bekerja maka dia mantab - makan tabungan. Maka kalau seperti itu, narik uangnya terus dibelanjakan," ujarnya dalam Live Stream Vol 4 bertajuk Indonesia Consumer Outlook: Understanding The Market From Nation's Biggest Bank, Jakarta, Sabtu, (27/6).
Melalui langkah tersebut, menurut Sunarso, telah terjadi perputaran ekonomi. Di mana kegiatan konsumsi atau belanja (demand) ini akan berpengaruh pada sisi produksi (supply).
"Bahwa narik uang tadi, uangnya ditarik oleh pembeli, kemudian dibayarkan kepada penjual, kemudian penjual tadi naruh uangnya di mana, apakah di bank atau digunakan muter sebagai modal kerja, itu juga menumbuhkan perekonomian, itu tidak masalah," jelas Sunarso.
Reporter: Pipit Ika Ramadhani
Sumber: Liputan6
