Menperin Agus Sebut Perpanjangan Pembebasan Bea Masuk Mampu Genjot Ekspor RI

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, perpanjangan fasilitas Generalized System of Preference (GSP) atau pembebasan bea masuk dari pemerintah Amerika Serikat (AS) bisa menggenjot kinerja ekspor Indonesia.

Sulaeman
Oleh Sulaeman - Reporter
Menperin Agus Sebut Perpanjangan Pembebasan Bea Masuk Mampu Genjot Ekspor RI
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita. ©2020 Liputan6.com/Tira Santia

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, perpanjangan fasilitas Generalized System of Preference (GSP) atau pembebasan bea masuk dari pemerintah Amerika Serikat (AS) bisa menggenjot kinerja ekspor Indonesia.

"Kemudahan ini harus dapat dimanfaatkan secara strategis oleh sektor industri dalam negeri untuk meningkatkan akses produk Indonesia ke pasar AS," kata Agus dalam pernyataannya, Selasa (3/11).

Menurutnya, GSP dari AS perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya karena kebijakan perpanjangan oleh Pemerintah AS jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Terbukti pada 2019 lalu, ekspor Indonesia ke AS yang menggunakan fasilitas GSP mencapai USD2,6 miliar atau meningkat sebesar 18,2 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya.

"Ekspor GSP Indonesia pada periode tersebut menyumbang 13,1 persen dari total ekspor Indonesia ke AS yang sebesar USD20,1 Miliar. GSP diperkirakan telah menghemat sekitar USD92 juta biaya bea masuk bagi produk Indonesia ke AS di tahun 2019," jelasnya.

Pada 2019, Indonesia juga merupakan negara asal impor GSP terbesar setelah Thailand. Ekspor Negeri Gajah Putih ke AS dengan menggunakan fasilitas GSP mencapai USD4,8 Miliar atau 23,71 persen dari total impor GSP AS. Pada periode yang sama, produk GSP Indonesia mengisi 12,95 persen dari keseluruhan impor, sebesar USD2,6 Miliar. Nilai tersebut berasal dari 732 pos tarif ekspor dari total 3572 pos tarif yang memperoleh GSP.

Selain itu, Indonesia juga berpeluang meningkatkan pangsa pasar bagi produk-produk yang selama ini diisi oleh Thailand. Berdasarkan hasil review, terdapat beberapa produk ekspor Thailand yang tidak lagi mendapatkan fasilitas GSP dari AS.

Adapun beberapa produk yang berpeluang untuk ditingkatkan pangsa pasarnya adalah pompa bahan bakar/pelumas (HS 8413.30.90), kacamata (9004.90.00), sepeda motor dengan piston (HS 8711.50.00), wastafel/bak cuci (HS 6910.10.00). Lalu, papan/panel/konsol/meja (HS 8537.10.91), sekrup dan baut (HS 7318.15.80), alat kelengkapan pipa dari tembaga, perangkat makan (HS 3924.10.40), serta bingkai kayu untuk lukisan (HS 4414.00.00).

"Dengan demikian, produk kita bisa lebih kompetitif dibandingkan Thailand, sehingga kita berpeluang meningkatkan

ekspor dan mengisi pasar di AS dengan merebut pangsa pasar Thailand tersebut," tegas Agus.

Rekomendasi