Perusahaan milik miliarder ternama Amerika Serikat, Warren Buffett Berkshire Hathaway melaporkan kerugian bersih hampir USD 44 miliar atau setara Rp 653,2 triliun pada kuartal kedua 2022, didorong oleh penurunan besar dalam nilai portofolio saham perusahaan tersebut.
Namun kerugian ini tidak menjadi kejatuhan sepenuhnya bagi Berkshire Hathaway, bahkan di masa ketidakpastian ekonomi AS dalam beberapa waktu terakhir.
Dilansir dari CNN Business, meski nilai sahamnya menurun, Berkshire Hathaway masih melaporkan laba operasi sebesar USD 9,3 miliar atau Rp 138 triliun di kuartal yang sama - kenaikan hampir 40 persen dari tahun lalu.
Keuntungan itu sebagian disebabkan oleh suku bunga yang lebih tinggi yang meningkatkan porsi unit asuransi kolosal perusahaan itu. Ada juga lonjakan pendapatan dari bisnis kereta api, utilitas dan energi Berkshire.
Selain itu, Berkshire juga melaporkan pembelian saham bersih sekitar USD 3,8 miliar selama kuartal kedua. Pembelian kembali sahamnya sendiri senilai USD 1 miliar di kuartal tersebut, sebuah langkah yang membantu meningkatkan pendapatan per saham.
Sebagai informasi, Berkshire memiliki saham besar di Apple (AAPL), Bank of America (BAC), Coca-Cola (KO), Chevron (CVX) dan American Express (AXP). Kelima saham tersebut membentuk hampir 70 persen dari portofolio Berkshire.
Banyak bisnis Berkshire telah bangkit kembali dengan tajam dari perlambatan ekonomi yang disebabkan oleh Covid-19 sejak tahun 2020.
"Karena pandemi Covid-19 berdampak negatif pada sebagian besar bisnis, termasuk Berkshire, pada awal 2020, membandingkan hasil saat ini dengan hasil pra-pandemi 2019 sangat membantu," kata Bill Stone, kepala investasi Glenview Trust Company dan pemegang saham Berkshire, dalam sebuah laporan.
"Laba usaha untuk kuartal kedua 2022 adalah 51 persen, melampaui 2019," ungkapnya.
Reoorter: Natasha Khairunnisa Amani
Sumber: Liputan6.com
