Penertiban tambang timah ilegal di Bangka Belitung dipandang sebagai katalis positif bagi PT Timah Tbk (TINS). Kebijakan ini membuka peluang bagi perseroan untuk memperkuat pasokan bijih, mengerek produksi, dan mendorong penjualan logam timah.
Selama ini, aktivitas penambangan di luar rantai pasok resmi membuat sebagian pasokan timah tidak tercatat dan menjadi tantangan bagi produsen berizin seperti PT Timah. Dengan penertiban, bahan baku yang sebelumnya tidak masuk sistem berpotensi kembali ke saluran resmi.
Sejumlah analis menilai momentum ini dapat memperbaiki kinerja operasional PT Timah. Tanda pemulihan mulai terlihat pada semester I 2026, ketika volume produksi dan kinerja keuangan perseroan meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Advertisement
Skala Tambang Ilegal dan Efek ke TINS
Pemerintah menargetkan penutupan sekitar 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung. Presiden Prabowo Subianto memperkirakan sektor shadow atau pertambangan timah di luar sistem resmi dapat mencapai sekitar 80 persen dari total produksi di wilayah tersebut.
Indonesian Tin Exporters Association memperkirakan hingga 12.000 ton timah dapat diekspor secara ilegal setiap tahun. Besarnya arus di jalur informal itu selama ini menggerus porsi pasokan resmi.
Manajemen TINS menyebut persaingan dengan penambang ilegal sebagai salah satu faktor yang menekan produksi perseroan. Pada semester I 2025, produksi bijih timah PT Timah tercatat turun 32 persen secara tahunan menjadi 6.997 ton Sn.
Advertisement
Paruh Pertama 2026, Volume dan Laba PT Timah Melonjak
Pemulihan kinerja mulai tercermin pada semester I 2026. Produksi bijih timah PT Timah mencapai 12.232 ton Sn, naik sekitar 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 6.997 ton Sn.
Produksi logam timah meningkat menjadi 10.865 metrik ton, sementara penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton. Volume penjualan tersebut melonjak sekitar 85 persen dibandingkan 5.933 metrik ton pada semester I 2025.
Lonjakan volume ikut mendongkrak kinerja keuangan. Pendapatan TINS tercatat Rp 10,42 triliun, naik 147 persen dari Rp 4,22 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih meningkat sekitar 805 persen menjadi Rp 2,71 triliun dibandingkan Rp 300 miliar pada semester I 2025.
Capaian laba bersih itu bahkan telah mencapai sekitar 169 persen dari target laba bersih TINS sepanjang 2026 sebesar Rp 1,61 triliun. Kinerja perseroan juga mendapat dukungan dari penguatan harga timah global; harga rata-rata di London Metal Exchange (LME) pada semester I 2026 tercatat US$ 50.319 per metrik ton, naik 56,7 persen dibandingkan US$ 32.116 per metrik ton pada semester I 2025.
Advertisement
Valuasi, Rekomendasi, dan Prospek Menurut Analis
Perbaikan fundamental PT Timah tercermin pada lonjakan kapitalisasi pasar. Pada Agustus 2025, kapitalisasi pasar TINS berada di kisaran Rp 7,6 triliun dan meningkat menjadi sekitar Rp 28,75 triliun pada Agustus 2026.
Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, Selasa (11/8/2026), menilai prospek PT Timah masih menarik dengan mempertimbangkan pertumbuhan kinerja, harga timah global, dan komitmen pemerintah menertibkan tambang ilegal. Ia merekomendasikan Buy untuk saham TINS dengan target harga Rp 4.700–Rp 5.000 per saham.
Menurut Hans, prospek TINS saat ini ditopang oleh pemulihan produksi serta potensi normalisasi pasokan melalui penertiban tambang ilegal. Hal ini memberi ruang bagi peningkatan perolehan bijih dan kapasitas produksi.
Dari sisi valuasi, ia menilai saham TINS masih relatif murah dengan price to earnings ratio (PER) sekitar 4,49 kali. Selain itu, net profit margin sekitar 26 persen dan return on equity (ROE) sekitar 51 persen menunjukkan profitabilitas yang kuat.
Hans juga menilai prospek harga timah dunia masih positif seiring potensi kekurangan pasokan global akibat meningkatnya kebutuhan industri semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa tahun ke depan.
