5 Pemain MU Main Paling Buruk di Final Liga Europa

Final Liga Europa menjadi kesempatan berharga bagi Manchester United untuk menutup musim dengan meraih trofi.

richard andreas
Oleh richard andreas - Reporter
5 Pemain MU Main Paling Buruk di Final Liga Europa
Ruben Amorim: MU Tidak Bisa Lebih Mengenaskan dari Musim Ini! ((c) AP Photo/Bernat Armangue)

Liga Europa 2024/2025 menjadi kesempatan berharga bagi Manchester United untuk menutup musim dengan meraih trofi. Sayangnya, impian tersebut harus pupus setelah mereka mengalami kekalahan tipis 0-1 dari Tottenham Hotspur di San Mames, Bilbao.

Meskipun tim berhasil menguasai bola hingga 74%, Setan Merah tidak mampu memanfaatkan berbagai peluang yang ada. Beberapa pemain kunci justru menunjukkan performa di bawah standar, yang berkontribusi pada hasil yang mengecewakan ini. Berikut adalah analisis mengenai lima pemain Manchester United yang dianggap tampil kurang optimal dalam laga final tersebut:

Rasmus Hojlund

Tinggalkan MU, Rasmus Hojlund Tak Jadi ke AC Milan tapi Malah Gabung Klub Premier League Lain?
Tinggalkan MU, Rasmus Hojlund Tak Jadi ke AC Milan tapi Malah Gabung Klub Premier League Lain? (c) AP Photo/Bernat Armangue

Rasmus Hojlund, yang berperan sebagai ujung tombak serangan, diharapkan mampu memberikan ancaman yang signifikan terhadap pertahanan lawan. Namun, dalam laga ini, ia mengalami kesulitan untuk menembus pertahanan Tottenham dan jarang memperoleh peluang yang berarti. Performa yang kurang memuaskan membuatnya harus digantikan pada babak kedua, yang menunjukkan minimnya pengaruh yang ia berikan di lapangan. Penampilannya yang tidak sesuai harapan menjadi salah satu penyebab utama serangan United yang tidak efektif.

Luke Shaw

Dibongkar Michael Carrick: Ini Rahasia Taktik Ruben Amorim di MU yang 'Nyalakan' Kembali Mesin Tua Casemiro
Dibongkar Michael Carrick: Ini Rahasia Taktik Ruben Amorim di MU yang 'Nyalakan' Kembali Mesin Tua Casemiro (c) AP Photo/Dave Thompson

Luke Shaw, yang baru saja sembuh dari cedera, belum mampu menampilkan performa optimalnya. Dalam laga tersebut, ia tampak kurang responsif dalam menghadapi pergerakan lawan di sisi kiri pertahanannya.

Gol tunggal yang dicetak oleh Tottenham berasal dari area yang dijaganya, hal ini mencerminkan kurangnya koordinasi dan ketajaman dalam aspek bertahan. Penampilan yang tidak solid tersebut memberikan kesempatan bagi lawan untuk menciptakan peluang berbahaya.

Mason Mount

MU Krisis, 5 Hal yang Wajib Dibenahi Ruben Amorim Jika Ingin Selamat
MU Krisis, 5 Hal yang Wajib Dibenahi Ruben Amorim Jika Ingin Selamat (c) AP Photo/Dave Thompson

Mason Mount, yang dipercaya sebagai starter, diharapkan dapat mengendalikan tempo permainan serta menambah kreativitas di lini tengah. Namun, ia mengalami kesulitan dalam menemukan ruang dan kerap kehilangan bola di area yang berisiko.

Kurangnya kontribusi yang berarti dari Mount membuat pelatih memutuskan untuk menggantinya dengan Alejandro Garnacho. Garnacho, yang masuk sebagai pemain pengganti, mampu memberikan dampak yang lebih besar dalam pertandingan. Penampilan Mount yang kurang memuaskan menimbulkan keraguan mengenai keputusan pelatih dalam memilih pemain yang tepat untuk posisi tersebut.

Andre Onana

Andre Onana Bukan Kiper Jelek, Tapi Memang Tidak Cocok untuk MU
Andre Onana Bukan Kiper Jelek, Tapi Memang Tidak Cocok untuk MU (c) AP Photo/Jon Super

Andre Onana, sebagai kiper, seharusnya berfungsi sebagai penghalang terakhir yang tangguh. Namun, dalam laga ini, ia memperlihatkan keraguan pada beberapa momen penting, terutama saat berusaha mengantisipasi umpan silang. Meskipun ia tidak sepenuhnya dapat disalahkan atas gol-gol yang terjadi, kurangnya komunikasi dan rasa percaya diri yang ditunjukkan Onana berdampak negatif terhadap stabilitas pertahanan tim. Kinerja yang kurang memuaskan ini semakin menambah beban pada lini belakang Manchester United.

Bruno Fernandes

Pengakuan Jujur Rio Ferdinand: Aku Tak Yakin Bisa Menolak Uang Arab Saudi seperti Bruno Fernandes
Pengakuan Jujur Rio Ferdinand: Aku Tak Yakin Bisa Menolak Uang Arab Saudi seperti Bruno Fernandes (c) AP Photo/Dave Thompson

Bruno Fernandes, sebagai kapten tim, diharapkan dapat menjadi pemimpin serta penggerak dalam serangan. Namun, pada pertandingan final kali ini, ia mengalami kesulitan dalam menemukan ritme permainan dan sering kali kehilangan bola di area yang krusial. Meskipun ia berusaha untuk mengambil inisiatif, kurangnya dukungan dan koordinasi dari rekan-rekannya membuat upayanya tidak membuahkan hasil. Penampilan Fernandes yang tidak memuaskan mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh tim secara keseluruhan.

Rekomendasi