Kebencian terhadap Islam dalam beberapa pekan terakhir kian meningkat di Prancis. Sentimen negatif ini meruncing setelah insiden penembakan terhadap sekolah seminari Yahudi (yeshiva) di Kota Toulouse bulan lalu. Pelaku adalah seorang remaja keturunan Aljazair. Insiden itu menewaskan tiga orang, termasuk seorang rabbi. Selepas kejadian itu, aparat keamanan Prancis menahan sepuluh tokoh muslim di negara itu dengan tudingan terorisme. Sentimen anti-Islam ini rupanya dimanfaatkan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy. Dia berencana menggelar debat publik bertema kecocokan Islam dengan nilai-nilai negara sekuler. Acara itu dituding hanya menyebar Islamofobia dan bertujuan meraih popularitas menjelang pemilihan presiden.Surat kabar Al Bawaba melaporkan, Kamis (12/4), rencana itu sudah dicetuskan lama oleh Partai Gerakan Rakyat Bersatu (UMP) yang diketuai Sarkozy. Gagasan ini muncul lagi akibat insiden Toulouse. Namun, beberapa pegiat dan bahkan orang dalam pemerintahan menolak ide itu karena hanya menciptakan kebencian pada pemeluk Islam. Salah satunya adalah Perdana Menteri Francois Fillon.Dia menyatakan acara yang menebar prasangka tidak proporsional sebaiknya tidak diselenggarakan. "Jika debat ini hanya akan menyudutkan Islam dan menjadi ajang pelabelan bagi muslim, saya akan menentang," ujar Fillon saat diwawancara radio RTL awal pekan ini.Menurut guru besar ilmu politik Olivier Roy dari Institut d'Études Politiques de Paris, tekanan terhadap umat Islam di Prancis saat ini bikinan para politisi. Politisi sayap kanan, termasuk kubu Sarkozy, memanfaatkan isu agama sebagai jalan buat membahas nasionalisme.Sekitar enam juta pemeluk muslim di Prancis merupakan imigran asing. Sehingga mereka dituding merebut pekerjaan warga asli.Padahal menurut Roy imigran terbanyak di negara itu saat ini bukan dari negara-negara muslim. "Jumlah pendatang terbanyak akhir-akhir ini malah dari Cina dan Eropa Timur," ujar Roy.
Sentimen anti-Islam meningkat di Prancis
Presiden Prancis Nicolas Sarkozy akan menggelar debat publik bertema kecocokan Islam dengan nilai-nilai negara sekuler.
Advertisement
Rekomendasi
