Presiden Myanmar Thein Sein kemarin telah mengampuni 93 tahanan, termasuk di antaranya 59 tahanan politik. Pengumuman ini muncul satu hari setelah Uni Eropa mencabut sanksipolitik dan ekonomiterhadap Myanmar.
Surat kabar the Washington Post melaporkan, Rabu (24/4), pengampunan yang diumumkan melalui televisi nasional ini muncul di tengah seruan pembaruan bagi pemerintahan Presiden Thein Sein untuk membebaskan ratusan tahanan politik yang dipercaya masih berada di balik jeruji besi.
Namun, Myanmar kerap membantah adanya tahanan politik dan mengatakan semua orang yang dijatuhi hukuman penjara telah dijatuhi vonis lantaran melanggar undang-undang.
Rratusan tahanan politik terkemuka telah dibebaskan Sejak Thein menjadi presiden pada dua tahun lalu, setelah pemerintahan junta militer dibubarkan.
Ye Aung, mantan tahanan dan anggota komite pemerintah, mengatakan setidaknya 59 tahanan politik dilepaskan kemarin dan setidaknya masih ada 300 orang lainnya di penjara. Kebanyakan dari mereka adalah anggota dari etnis minoritas.
Para pemimpin oposisi dan pegiat hak asasi menuding pemerintah telah menggunakan para tahanan politik ini sebagai cara untuk melakukan tawaw-menawar. Mereka hanya melepaskan beberapa tahanan untuk membuktikan kemajuan pemerintahan, namun tetap menahan beberapa orang lainnya untuk mendorong dunia Barat meringankan sanksi yang dijatuhkan kepada Myanmar.
Pembebasan secara besar-besaran terhadap tahanan Myanmar sebelumnya dilakukan bertepatan dengan kunjungan kenegaraan dari Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama. Sementara pembebasan kemarin muncul setelah Uni Eropa mencabut semua sanksi terhadap Myanmar untuk mendukung proses nyata dari reformasi demokrasi di negara itu.
"Pembebasan tahanan hampir semuanya bertetapan dengan acara internasional. Pembebasan sekarang bertepatan dengan dicabutnya sanksi dari Uni Eropa," ujar salah satu mantan tahanan politik ternama yang dibebaskan pada tahun lalu, Ko Ko Gyi."Pemerintah harus mengakui keberadaan tahanan politik dan melepaskan mereka semua."
Zaw Moe, salah satu tahanan yang dibebaskan kemarin dari penjara di Kota Yangon, mengatakan dirinya merupakan satu dari lima tahanan politik yang dibebaskan. Namun, dia mengatakan dirinya tidak merasa puas sebab banyak temannya masih berada di balik jeruji besi. "Saya khawatir dengan mereka semua."
Zaw Moe dijatuhi hukuman 18 tahun penjara pada 2008 atas dugaan terlibat dengan kelompok pemberontak yang melawan bekas pemerintah junta militer.
