Perang di Suriah yang berlangsung sejak Maret 2011 telah menewaskan sedikitnya 250 ribu orang. Sebanyak 74 ribu di antaranya adalah warga sipil. Jutaan warga terpaksa mengungsi ke berbagai wilayah negara tetangga, bahkan ke Eropa.Pihak yang bertikai, kubu Presiden Basyar al-Assad dan kelompok pemberontak, kini mencoba mengakhiri konflik lewat jalan perundingan damai.Namun perundingan yang digelar di Jenewa, Swiss sejak lima hari lalu mengalami kebuntuan, Kedua kubu tetap pada tuntutannya masing-masing.Amerika Serikat yang selama ini menghendaki Assad lengser dan mendukung kelompok pemberontak menuding Rusia dan pemerintah Suriah sebagai pihak yang menghambat proses perdamaian.Rakyat Suriah dan komunitas internasional tentu kecewa dengan gagalnya upaya damai itu. Mereka tidak akan pernah lupa sederetan kekejaman rezim Assad terhadap warga sipil.Di antara kekejaman Assad itu adalah penggunaan senjata kimi terhadap warga sipil.Pegiat kemanusiaan di Suriah pernah mendokumentasikan tindakan militer Suriah terhadap warga sipil.video berdurasi satu menit 19 detik itu memperlihatkan kehancuran disebabkan senjata kimia di Kota Duma, sekitar sepuluh kilometer di timur laut Ibu Kota Damaskus, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Desember 2012.Pegiat mengatakan pesawat tempur tentara Suriah menjatuhkan bom kimia itu. Ketika bom itu menghantam tanah terdengar ledakan dan bahan beracun berbahaya di dalam bom itu terlepas lalu muncul kobaran api. Tanah tempat bom itu jatuh juga berbusa. Seseorang lalu menyemprotkan air ke arah kobaran api itu.Di sebuah video lain tampak tentara oposisi memperlihatkan perlengkapan untuk melindungi diri dari serangan senjata kimia atau gas beracun.Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sebelumnya menyatakan akan mengambil langkah militer jika Assad menggunakan senjata kimia terhadap warganya.Dunia internasional menunjukkan kekhawatiran terhadap situasi di Suriah lantaran rezim Assad telah berhasil mencampur senjata kimia dan membentuknya menjadi bom berisi komponen mematikan bagi urat syaraf yaitu gas Sarin. Beberapa media melaporkan
Advertisement
senjata kimia itu telah dipasang di pesawat-pesawat tempur tentara Suriah.Agustus lalu pasukan Assad menewaskan puluhan warga sipil dengan tembakan roket."Hingga saat ini ada 34 warga sipil yang terbunuh pada serangan Sabtu di Douma, termasuk di antaranya 12 anak-anak dan delapan wanita," tukas Rami Abdel Rahman, Aktivis HAM Suriah, seperti dilansir alarabiya.net mengutip AFP, Minggu (23/8)."Pada malam pasca-serangan, sebanyak 20 korban jiwa dan beberapa korban telah ditemukan dan keesokannya ditemukan lebih banyak lagi yang tertindih reruntuhan puing," lanjutnya.Para aktivis mengatakan serangan tersebut terjadi saat banyak anggota keluarga tengah berkumpul di rumah.Selain membunuhi warganya sendiri lewat serangan militer, rezim Assad juga membiarkan warga sipil kelaparan.Di Kota Madaya, 25 kilometer sebelah barat laut Ibu Kota Damaskus, warga kebanyakan kelaparan dan sulit mendapat bahan bakar serta fasilitas kesehatan. Abu Abdul Rahman, warga Madaya, mengatakan kepada stasiun televisi Aljazeera, dia sudah tidak makan selama empat hari. Dia dan keluarganya sudah tidak banyak bergerak di dalam rumah untuk menghemat tenaga."Sudah tak ada lagi anjing dan kucing di kota ini. Bahkan daun-daunan yang selama ini kami makan dari pepohonan sudah makin sedikit," ujar Rahman, seperti dilansir Aljazeera, Jumat (8/1).Palang Merah Internasional mengatakan warga di kota itu membakar plastik untuk membuat mereka tetap hangat.Kelompok Peninjau Hak Asasi Suriah tiga hari lalu mengatakan sedikitnya 23 orang, termasuk anak-anak meninggal di Madaya karena kelaparan.Sedikitnya 300 anak-anak di kota itu juga mengalami kekurangan gizi. Pegiat lokal menuturkan sekitar 40 ribu warga di Madaya sulit mendapat akses makanan dan obat-obatan.Petugas medis di Madaya mengatakan warga makan rumput buat bertahan hidup.
