Pemerintah Myanmar kemarin mengajak sejumlah diplomat asing dan perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengunjungi Negara Bagian Rakhine yang tengah dilanda konflik.Hal tersebut dilakukan setelah pemerintah mendapat kecaman dari pihak internasional karena melarang kelompok bantuan, wartawan, dan pihak luar lainnya melakukan kunjungan independen ke wilayah tersebut untuk melihat situasi sesungguhnya yang terjadi di sana."Tiga kelompok diplomat dibawa ke tiga wilayah berbeda hari ini," kata pimpinan distrik Maungdaw di Rakhine, Ye Htut, seperti dilansir dari laman Washington Post, Senin (2/10).Meski demikian, Htut enggan memberikan rincian tentang diplomat yang diajak ke wilayah tersebut dan juga kewarganegaraannya.Salah seorang pejabat lokal mengatakan bahwa kunjungan para diplomat asing itu mencakup pertemuan dengan keluarga korban yang diduga dibunuh oleh militan Rohingya saat melancarkan serangan kepada masyarakat Hindu. Para diplomat itu juga dijadwalkan mengunjungi desa Anaut Pyin, kota Rathedaung, tempat bermukimnya komunitas Rohingya yang belum melarikan diri.Seperti diketahui, lebih dari setengah juta warga muslim Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh karena kerap menerima kekerasan dari pasukan pemerintah. Kekerasan terbaru dimulai ketika Kelompok Militan Tentara Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA) melancarkan serangan mematikan ke pos keamanan pada 25 Agustus lalu. Hal itu mendorong militer Myanmar untuk meluncurkan "operasi pembersihan" untuk membasmi para pemberontak tersebut.Namun faktanya, warga Rohingya juga turut menjadi korban pembersihan tersebut hingga tidak memiliki pilihan lain selain melarikan diri.
Myanmar ajak diplomat dunia kunjungi wilayah konflik Rakhine
Myanmar ajak diplomat dunia kunjungi wilayah konflik Rakhine. Hal tersebut dilakukan setelah pemerintah mendapat kecaman dari pihak internasional karena melarang kelompok bantuan, wartawan, dan pihak luar lainnya melakukan kunjungan independen ke wilayah tersebut.
Advertisement
Rekomendasi
