Tak letih menanti asap putih

Jika asap putih terlihat Paus baru pun terpilih.

Ardini Maharani
Oleh Ardini Maharani - Reporter
Tak letih menanti asap putih
Pertemuan kardinal menentukan Paus baru. m.terra.com.br ©2013 Merdeka.com

Kemarin, petugas pemadam kebakaran Vatikan memanjat atap Kapel Sistina, Basilika Santo Petrus, untuk memasang cerobong asap yang akan memberikan sinyal jika terpilih Paus baru dan tepat hari ini, para kardinal akan memulai konklaf untuk memilih pemimpin Takhta Suci sejak mundurnya Benediktus XVI.Pemilihan ini tentu saja mengundang perhatian umat Katolik sejagat lantaran kemunduran Joseph Ratzinger yang dadakan memaksa para kardinal untuk secepatnya menggelar konklaf. Sejatinya pemilihan Paus baru ini diadakan sore hari, Selasa (12/3), seperti dilansir surat kabar the Daily Mail. Para kardinal segera mengunci diri di Kapel Sistina setelah misa pagi.Sekitar 115 kardinal memenuhi syarat yakni berusia di bawah 80 tahun menghadiri konklaf. Pengamat mengatakan seharusnya pertemuan ini bisa dimulai Ahad atau kemarin namun nampaknya gereja ingin lebih banyak waktu untuk merenungkan siapa diantara mereka menjadi yang terbaik untuk memimpin 1,2 miliar umat Katolik sejagat. Sementara para pekerja membangun perapian yang terhubung dengan cerobong asap.Ini memang menjadi tradisi pemilihan Paus. Para kardinal akan membakar surat-surat suara kala pemungutan dilakukan. Demikian seterusnya hingga keluar kepulan asap putih dan saat itulah Paus baru terpilih. Selain cerobong asap jubah kebesaran Paus juga disiapkan, balkon tempat Paus baru pertama kali muncul dan memberikan khotbah juga dipercantik.Dari data the Daily Mail ada sekitar 115 kardinal mengikuti konklaf 14 dari Amerika Utara, 61 dari Eropa, sembilan dari Asia, 19 dari Amerika Latin, 11 dari Afrika, dan satu kardinal dari Oceania. Seluruh peserta harus melemparkan sendiri kartu pemungutan suara ke tungku perapian dan kertas itu dihitung oleh tiga orang disebut scrutineers. Sebelumnya mereka bersumpah akan memilih Paus yang benar. Kartu suara bertuliskan 'Eligo in summum pontificem' atau saya memilih Paus pemimpin ini dibagikan dan masing-masing kardinal mencatat nama kandidat mereka. Setelahnya mereka melipat kartu dan berjalan ke altar meletakkan kertas itu di tempat telah disediakan.Surat suara dibacakan oleh Kardinal Camerlengo dan tiga asistennya lalu membakar kertas itu seluruhnya. Bila belum ada kandidat meraih dua pertiga suara dilakukan putaran kedua berlangsung dari pagi hingga sore hari.Jika di hari ketiga belum ada Paus terpilih maka diadakan doa bersama terus menerus setiap tujuh suara masuk, artinya 33 doa terpanjat hingga menghasilkan dua kandidat terkuat. Selama pemilihan itu asap hitam bakal terus keluar hingga mendapat pemimpin baru Takhta Suci asap berubah menjadi putih.Hingga kini beberapa kandidat terkuat justru datang dari luar Eropa seperti Peter Turkson asal Ghana, Francis Arinze asal Nigeria, Marc Ouellet asal Kanada, Timothy Patrick Dolan asal Amerika Serikat, satu-satunya calon kuat Asia yakni Luis Antonio Tagle asal Filipina, namun peluangnya kecil mengingat dia baru diangkat menjadi kardinal tahun lalu.

Rekomendasi