Posisi 14 warga negara Indonesia disandera kelompok militan Abu Sayyaf, tidak sama dengan lokasi sandera warga negara Kanada yang dieksekusi mati di Pulau Jolo, Kepulauan Sulu. Kementerian Luar Negeri Indonesia menyampaikan hal tersebut.
"Operasi militer kita sudah tahu sebelumnya. Menlu Retno sudah dapat informasi dari Menlu Filipina apabila ada operasi militer dan eksekusi sandera Kanada. Saya tegaskan, posisi 14 WNI tidak berada di dekat lokasi tersebut," ujar juru bicara Kemlu Arrmanatha Nasir saat ditemui di Jakarta, Kamis (28/4).
Pria akrab disapa Tata ini menegaskan hal tersebut merupakan sebuah langkah koordinasi yang baik antara kedua negara. Setiap hari Menlu Retno selalu berkomunikasi dengan Menlu Filipina, Jose Rene D. Almendras dalam memantau kondisi dan situasi para sandera 14 WNI.
"Kami saling bantu dan mengupayakan untuk menyelamatkan 14 WNI. Prioritas kami adalah keselamatan mereka," tegasnya.
Komunikasi yang terjalin antara dua menlu melalui telepon maupun pesan teks. Tata juga dengan tegas mengatakan Kemlu tidak pernah memberitahukan kapan tenggat waktu penebusan.
"Saya tegaskan untuk hal itu, Kemlu tidak pernah menyebutkan tenggat waktu apalagi soal uang tebusan," tegasnya.
Hingga saat ini, 14 warga negara Indonesia masih ditahan kelompok Abu Sayyaf di wilayah Filipina, begitu juga dengan empat warga negara Malaysia. Mulanya, 10 WNI disandera pada 28 Maret lalu. Setelah itu pada 16 April, Abu Sayyaf kembali menyandera empat WNI.
