Masyarakat diimbau untuk mewaspadai adanya politik uang menjelang pemilihan gubernur DKI Jakarta, 11 Juli 2012 besok. Banyak modus yang dilakukan oleh tim sukses pasangan calon untuk meraup suara dengan menggunakan politik uang (money politics)."Sekarang modusnya baru. Ada indikasi bahwa pemilih membawa handphone ke dalam bilik suara untuk memotret atau merekam apa yang dia pilih sebagai bukti kepada timses," kata Ketua Komite Independen Pemantau Pemilu Jakarta, Wahyu Dinata, kepada PulseFeed, Selasa (10/7).Selain itu, ada juga indikasi menaruh tim sukses di setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS). Biasanya, tiap TPS ditaruh dua orang."Selain sebagai saksi, ada dugaan juga timses itu melakukan intimidasi dan mengajak pemilih agar memilih calon tertentu," ujar dia.Selain di TPS, timses juga melakukan gerilya di setiap daerah. Tapi, kali ini tidak lagi menjelang pemilihan."KIPP pernah melakukan pemantauan dari pukul 00.00 WIB sampai subuh di daerah lain, tapi tidak menemukan indikasi adanya politik uang. Kemungkinan, politik uang sudah dilakukan jauh-jauh hari atau dua hari sebelum pemilihan," jelas dia.Wahyu menilai, politik uang yang dilakukan oleh timses saat ini lebih halus. "Tidak seperti dulu yang terang-terangan, ada ketok pintu segala macam atau serangan fajar. Bisa juga politik uang dilakukan sebelum-sebelumnya," kata Wahyu.Ada enam pasangan calon yang akan dipilih oleh warga Jakarta. Enam pasangan calon itu adalah Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria, Hidayat Nur Wahid-Didik J. Rachbini, dan Alex Noerdin-Nono Sampono.
Beragam modus politik uang jelang Pilgub DKI
Politik uang yang dilakukan oleh timses saat ini lebih halus.
Advertisement
Rekomendasi
