Fakta autopsi jenazah terduga teroris Siyono

Tim forensik menemukan bekas luka akibat benturan dengan benda tumpul di jenazah Siyono.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Fakta autopsi jenazah terduga teroris Siyono
Proses pembongkaran makam dan autopsi jenazah Siyono. ©2016 Merdeka.com

Tim ahli forensik dari Muhammadiyah kemarin telah merampungkan autopsi jenazah terduga teroris Siyono. Autopsi berlangsung dari pagi sekira pukul 07.00 WIB hingga siang hari pukul 11.00 WIB.Koordinator tim dokter, Gatot Suharto menuturkan tidak ditemukan adanya bekas luka tembak di jenazah. Namun tim dokter menemukan tanda intravital, luka karena adanya benturan dengan benda tumpul, bahkan ada beberapa tempat yang patah tulang."Hasil autopsi tidak ada luka tembak, yang ada hanya tanda intravital atau tanda bekas benturan dengan benda tumpul. Kami juga menemukan beberapa bagian tubuh yang mengalami patah tulang," kata Gatot di kediaman Siyono, Dukuh Brengkungan Desa Pogung, Minggu (3/4).Gatot menambahkan pemeriksaan tak hanya dilakukan di pemakamkan Siyono. Nantinya akan diperkuat dengan pemeriksaan mikroskopik."Pemeriksaan mikroskopik bisa memakan waktu sampai satu minggu atau 10 hari," jelasnya.Lebih lanjut Gatot menjelaskan, autopsi jenazah harus dilakukan di pemakaman, lantaran jika harus dibawa ke tempat lain, jenazah akan rusak. Selain itu jenazah Siyono dapat langsung dikuburkan kembali ke tempat semula.Ketua Bidang Hukum HAM dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas menambahkan, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan lengkap tim dokter. Setelah hasil autopsi diketahui, dia berjanji segera duduk bersama untuk menentukan langkah apa yang dilakukan selanjutnya.

"Kami masih menunggu hasil lengkap autopsi tim dokter keluar. Setelah itu baru akan kami tentukan langkah selanjutnya," pungkasnya.Proses autopsi ini dijaga ratusan personel Kokam (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) Jawa Tengah, dan sejumlah ormas di Solo raya serta Kepolisian. Suasana sempat mencekam, saat aparat kepolisian mendekat ke lokasi.Sekretaris The Islamic Study and Action Center (ISAC) Endro Sudarsono yang ikut memantau jalannya autopsi tersebut mengatakan, personel Brimob sempat akan masuk ring 2, namun setelah dilakukan negosiasi niat tersebut batal dilakukan."Tadi suasana sempat mencekam. Brimob sempat akan masuk ke ring 2. Tetapi kita nego Brimob agar ada di ring 3," ujar Endro.Sementara itu kakak kandung Siyono, Wagiyono menegaskan tetap menginginkan keadilan terhadap adiknya. Meski sudah mengikhlaskan, namun keluarga ingin mengetahui penyebab kematian Siyono.Terkait penolakan warga dan Kepala Desa Pogung terhadap autopsi dan ancaman pengusiran mereka, Wagiyono mengaku dirinya tak pernah diajak berdiskusi dengan kepala desa. Sebagai salah satu ketua RT, dirinya belum pernah diajak rapat terkait kesepakatan penolakan warga."Keluarga saya dan bapak saya tidak pernah diajak musyawarah tentang kesepakatan warga," ujar Wagiyono.


Sementara itu warga di sekitar tempat tinggal Siyono yang awalnya menolak autopsi nampak pasrah. Mereka tetap melakukan aktivitas seperti biasanya.Anggota Komnas HAM Divisi Pemantauan, Hafiz Abbas mengatakan, ada 9 dokter forensik Muhammadiyah yang melakukan autopsi. Autopsi, kata dia juga dilakukan atas permintaan Komnas HAM."Kami menggandeng Muhammadiyah karena dinilai memiliki infrastruktur dan jaringan yang luas untuk memfasilitasi terlaksananya autopsi. Prinsipnya Muhammadiyah, bisa membantu proses keadilan yang dicari oleh Sudarmi, istri Siyono. Autopsi berjalan lancar, tak ada penolakan warga seperti yang diberitakan sebelumnya," ujarnya.

Rekomendasi