Airbnb, platform akomodasi global, bersama dengan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), telah resmi meluncurkan “Bali Cultural Guidebook”. Peluncuran ini bertujuan untuk mendukung wisatawan dalam mengeksplorasi kekayaan budaya Bali yang unik dan mendalam.
Inisiatif ini merupakan langkah strategis dalam melestarikan warisan budaya yang khas, sekaligus mendorong pariwisata yang merata dan bertanggung jawab. Program ini memberdayakan komunitas tuan rumah atau homestay lokal sebagai duta budaya yang terampil.
Acara peluncuran buku panduan tersebut diselenggarakan pada Rabu, 11 September, di Jendela Bali, Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, Bali. Kehadiran panduan ini diharapkan mampu memperkaya pengalaman setiap pengunjung di Pulau Dewata.
Advertisement
Advertisement
Pemberdayaan Komunitas Lokal sebagai Duta Budaya
Mich Goh, Director of Public Policy Airbnb Asia Pasifik, mengungkapkan bahwa riset Airbnb menunjukkan 90 persen wisatawan di Asia Pasifik mencari pengalaman budaya otentik. Ia menekankan pentingnya koneksi tulus dengan tempat, orang, dan budayanya dalam perjalanan.
Pemberdayaan tuan rumah lokal sebagai duta budaya dilakukan melalui pelatihan khusus dan pemetaan budaya. Ini membekali mereka dengan pengetahuan dan inspirasi untuk berbagi tradisi serta warisan kebudayaan Bali dengan wisatawan global.
Program ini secara aktif menghidupkan filosofi Tri Hita Karana, yang mengedepankan keharmonisan antara alam spiritual, manusia, dan lingkungan. Dengan wawasan komunitas, Airbnb dan UNESCO mempromosikan pariwisata di luar destinasi populer.
Advertisement
Tujuannya adalah menghormati budaya lokal dan menciptakan peluang ekonomi di daerah yang kurang dikenal. Ini juga untuk memastikan pariwisata memberikan manfaat yang merata bagi seluruh masyarakat Bali.
Advertisement
Isi dan Manfaat Bali Cultural Guidebook
“Bali Cultural Guidebook” merujuk pada hasil pemetaan budaya UNESCO yang dilakukan dari Agustus hingga Desember 2024. Pemetaan ini mendokumentasikan kuliner lokal, seni, kerajinan, tradisi, dan situs bersejarah di lima kabupaten: Tabanan, Gianyar, Bangli, Buleleng, dan Badung.
Temuan-temuan tersebut menjadi dasar panduan ini, yang dirancang untuk memperkaya pemahaman host homestay dan menginspirasi wisatawan. Panduan ini juga bertujuan memperkuat pariwisata budaya di seluruh pulau Bali.
Dalam panduan ini, terdapat topik utama yang mencakup:
Advertisement
Moe Chiba, Culture Programme Specialist UNESCO, menyatakan bahwa warisan budaya tidak hanya dalam bentuk monumen, tetapi juga praktik kehidupan sehari-hari. Ia menambahkan, "Program ini memastikan agar pariwisata justru memperlihatkan dan memperkuat budaya sehari-hari, bukan malah melemahkannya."
Advertisement
Dampak Ekonomi dan Filosofi Pariwisata Berkelanjutan
I Wayan Sumarajaya, Kadis Pariwisata Bali, mengapresiasi “Bali Cultural Guidebook” sebagai referensi wisata budaya dan media pembelajaran. Buku ini menjadi inspirasi yang memperkenalkan Bali melalui cerita otentik tentang kehidupan masyarakatnya.
Ia menambahkan, "Sebuah inisiatif yang tidak hanya merekam dan merayakan kekayaan budaya Bali, tetapi juga memosisikan komunitas lokal sebagai pelaku usaha dalam memajukan pariwisata budaya yang berkelanjutan."
Ayu Martiasih, Community Leader Komunitas Tuan Rumah Airbnb, menjelaskan bahwa program ini membantu promosi host homestay di luar destinasi populer. Ini menyasar UMKM dengan tarif sewa di bawah Rp700.000, memastikan keuntungan bagi masyarakat lokal.
Advertisement
Buku panduan budaya Bali ini kini tersedia secara daring di halaman khusus situs Airbnb. Panduan ini dapat diakses oleh para Tuan Rumah dan wisatawan yang ingin mendalami kekayaan budaya Pulau Dewata.
Sumber: AntaraNews
