Bayi tabung kembar membahayakan kesehatan ibu?

Bayi kembar melalui program bayi tabung juga cenderung menderita kesulitan bernapas.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Bayi tabung kembar membahayakan kesehatan ibu?
Ilustrasi bayi tabung. ©2012 Shutterstock/Monkey Business Images

Program bayi tabung sering dilakukan oleh pasangan yang menginginkan keturunan namun memiliki masalah keturunan. Berkaitan dengan metode tersebut, sebuah penelitian terbaru dari Swedia menyebutkan kalau bayi tabung kembar memiliki risiko kesehatan yang kompleks bagi ibu dan janin.

Seperti yang dilansir dari Reuters (16/12), sebenarnya kekhawatiran mengenai kelahiran anak kembar dari program bayi tabung bukan masalah baru. Bahkan sudah banyak klinik yang berhenti melakukan proses transfer lebih dari satu embrio pada rahim ibu.

"Hasil analisis kami, ternyata wanita yang melakukan program bayi in vitro fertilization atau bayi tabung dengan satu anak lebih baik daripada dua janin sekaligus," tulis kepala peneliti Antonina Sazonova dalam jurnal Fertility and Sterility.

Peneliti tepatnya menganalisis data embrio baru dan beku yang ditransfer oleh klinik kesuburan di Swedia dari tahun 2002-2006. Rekaman tersebut berisi 991 wanita yang melahirkan anak kembar melalui program bayi tabung dan 921 ibu yang memiliki dua anak dengan metode bayi tabung dalam waktu berbeda.

Sekitar 47 persen bayi kembar dilaporkan prematur dan 39 persen disebutkan memiliki berat badan di bawah rata-rata.

Bayi kembar melalui program bayi tabung juga cenderung menderita kesulitan bernapas. Sementara ibu memiliki risiko tiga kali lebih besar mengalami tekanan darah tinggi dan kadar protein dalam urine meningkat.

"Banyak pasien yang mengalami masalah kesuburan memang menganggap punya dua anak sekaligus itu sebuah kebahagiaan ganda," terang Lynn Westphal dari Stanford University Medical Center yang tidak terlibat penelitian. "Padahal punya satu anak dalam satu waktu itu lebih baik."

Data lain menyebutkan kalau wanita akan lebih sukses menjalani program bayi tabung jika menerima transfer embrio tunggal. Namun hasil penemuan tersebut tidak begitu konsisten.

"Namun sebenarnya pasien hanya ingin cepat hamil. Jadi mereka menerima transfer embrio lebih dari satu. Jika akhirnya mereka mendapat janin kembar, pasien menganggapnya sebagai bonus," tutup Westphal.

Rekomendasi