Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil mengaku terkejut mendapati pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan kedua tahun ini hanya sebesar 4,67 persen. Ini lebih buruk ketimbang pertumbuhan ekonomi kuartal sebelumnya sebesar 4,71 persen.
"Ya tentu kami cukup kaget juga. Kami mengharapkan 4,71 persen sudah bottom out ternyata belum," kata Sofyan di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu (5/8).
Sofyan beralasan rendahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia lantaran kondisi global masih buruk. Ditandai dengan pelemahan harga komoditas.
"Kalau anda lihat data per wilayah, yang memproduksi komoditas itu pasti kena hard hit, Sumatera, Kalimantan. Tapi saya belum dapat data lebih detil," katanya.
"Tetapi di satu pihak, ibarat orang melihat gelas setengah kosong atau setengah penuh. Kalau gelas setengah penuh artinya adalah masih positif. Artinya kita itu di kuartal II ini tidak lebih memburuk dibandingkan dengan kuartal I."
Sofyan tetap optimistis ekonomi Indonesia bakal membaik di sisa tahun ini. Dia berharap, pertumbuhan ekonomi nasional pada akhir tahun bisa mencapai 5 persen.
"Di semester II kami yakin. Karena penyerapan belanja pemerintah kan polanya kuartal I rendah, kuartal II naik sedikit, tiga lebih tinggi, empat baru itu," katanya.
"Secara overall mudah-mudahan bisa capai 5 atau 5,1 persen. Jadi harus tumbuh kuartal III ini di atas 5 persen."
