Masjid Agung Al A’raaf di wilayah Rangkasbitung, Banten, memiliki tradisi yang unik selama bulan suci Ramadan, yakni membunyikan dentuman meriam. Hingga kini kebiasaan tersebut masih berlangsung, setelah puluhan tahun dibunyikan.
Salah satu penyulut meriam besi di Masjid Al A’raaf, Candra mengatakan jika terdapat dua meriam yang biasa digunakan secara bergantian saat berbuka puasa dan waktu imsyak.
“Untuk yang menyulutnya ada tiga orang yang bergantian, termasuk saya (Candra)” katanya, dilansir dari Kanal Youtube A 806EL Sultan Rangkas, Senin (18/4).
Advertisement
Terbuat Dari Besi
Meriam tersebut diketahui terbuat dari pipa besi dengan panjang kurang lebih 2 meter dengan diameter sekitar 10 sampai 20 cm. Pada sisi depan meriam, juga diberi penyangga agar posisinya bisa mengarah ke atas.
Untuk menyalakan dentuman tersebut, diperlukan satu buah karbit berukuran sedang yang kemudian dimasukkan ke dalam meriam dan diberi air.
Setelah semuanya menghasilkan tekanan, lubang di sisi belakang meriam kemudian disulut oleh api hingga terdengar suara dentuman yang menggelegar. Disebutkan jika suara tersebut dapat terdengar sampai berkilo-kilometer jauhnya.
Adapun saat ini, bunyi meriam tersebut selalu jadi pusat perhatian warga di wilayah Rangkasbitung, saat menjelang waktu berbuka dan sebelum salat subuh (Imsyak)
Advertisement
Dibunyikan Dua Menit Sebelum Azan
Biasanya, pihak yang dipercaya untuk menyulut meriam akan mulai bersiap-siap sekitar 7 menit sebelum waktu berbuka puasa. Tak berapa lama, meriam berwarna hijau itu dibunyikan sekitar satu menit sebelum azan.
Pola membunyikannya, dilakukan sebanyak dua kali berurutan dari meriam pertama dan kedua hingga dilanjutkan waktu berbuka puasa.
“Ini karena terbuat dari besi, jadi kencang banget suaranya. Dan ini masih terus bertahan sampai sekarang” jelas Candra.
Advertisement
Sebagai Penanda Waktu
Sebelumnya, fungsi meriam sendiri merupakan penanda waktu untuk berbuka puasa dan imsyak di wilayah sekitar Rangkasbitung. Mulanya, meriam ini digunakan lantaran di zaman dahulu teknologi pengeras suara belum mumpuni seperti sekarang sehingga dibutuhkan suara agar bisa didengar oleh orang banyak.
Candra mengaku jika selama ditugaskan menjadi penyulut meriam ini turut membuatnya bahagia, sekaligus was-was karena cukup beresiko bagi dirinya, termasuk kesehatan pendengaran.
“Waktu dulu pertama kali ngebakar, kuping saya sampai kena (budeg), tapi kalau sudah biasa seru” terangnya.
