Putus harapan tanpa kejelasan

Pengungsi Syiah asal Sampang terancam depresi.

Islahudin
Oleh Islahudin - Reporter
Putus harapan tanpa kejelasan
kerusuhan syiah dan sunii. ©Istimewa

Rasa bosan sudah seperti teman bagi pengungsi Syiah di Gedung Olah Raga Sampang (Madura), Jawa Timur. Sudah hampir delapan bulan mereka di sana. Untuk mengusir jenuh, lelaki dewasa biasanya kongko di sekitar lingkungan GOR. Tapi bagi anak-anak sulit. Meski banyak relawan dari berbagai lembaga swadaya masyarakat dan mahasiswa datang menghibur, tetap saja mereka merengek minta pulang ke rumah.Iklil Almila, salah satu koordinator pengungsi, mengisahkan bagaimana putra bungsunya, Zainal Abidin, lima tahun, terus merajuk minta balik. “Pak kapan pulang,” kata Iklil menirukan anaknya. Bila pertanyaannya kapan, kadang Iklil akan balik bertanya kepada anaknya, “Pulang ke mana?" Pulang ke rumah kita dibakar orang,” jawab Zainal.Menurut Hertasning Ichlas, Koordinator Tim Advokasi Sampang dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia (YLBHU), sangat wajar anak-anak menyakan kapan mereka kembali ke rumah lantaran sudah terlalu lama mengungsi. “Jangankan anak-anak, orang dewasa di sana sudah mulai ada saling ketidakpercayaan. Bila masa di pengungsian kian lama akan semakin berbahaya bagi mereka,” ujar Herta saat dihubungi PulseFeed melalui telepon selulernya, Rabu pekan lalu. Herta menegaskan kesehatan jiwa pengungsi tidak kalah penting ketimbang kesehatan fisik mereka. Dia melihat para pengungsi sudah lelah secara fisik dan pikiran. Bila dibiarkan berlarut-larut, bisa menimbulkan depresi berkepanjangan dan saling curiga antar pengungsi. Kalau sudah begitu, ketegangan di antara mereka gampang meletup. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia Albert Hasibuan juga mengakui kemungkinan itu. Dia menyesalkan pemerintah daerah selalu memakai pendekatan perbedaan keyakinan buat menuntaskan masalah ini. “Penyelesaiannya harus dengan pendekatan hak asasi manusia karena mereka juga warga negara Indonesia,” ujar Albert ketika dihubungi secara terpisah.Dia mengusulkan pengungsi Syiah dikembalikan ke kampung halaman mereka, bukan dipindah ke tempat lain. Warga kampung juga harus diberikan sosialisasi tentang menerima perbedaan. Sayangnhya, menurut Albert, ketika menengok pengungsi Syiah akhir Januari lalu, empat bupati di Madura keras kepala. “Bahkan ada bupati ingin mereka dikeluarkan dari Madura,” ucapnya. Dia mengakui masalah ini juga menjadi sorotan lembaga asing. Namun dia tidak bisa memastikan kapan para pengnaut Syiah itu dipulangkan. Padahal, menurut Ismail Hasani dari Setara Institute, pemerintah pusat harus tegas. Sebab itu, dia menilai upaya Albert merupakan inisiatif sendiri dan bukan gagasan Jakarta.

Kalau sudah begini, para pengungsi Syiah bisa putus harapan lantaran tidak ada kejelasan.

Rekomendasi