Cerita Gajah Mada, Setinggil dan Sendang Krapyak di Desa Modo

Setinggil, tempat yang diyakini dibuat Gajah Mada kini menjadi tempat favorit remaja desa untuk berpacaran.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Cerita Gajah Mada, Setinggil dan Sendang Krapyak di Desa Modo
Sitinggil. ©2015 Merdeka.com/Yacob B

Meski kabar yang menyebutkan Gajah Mada berasal dari Desa Modo, Lamongan, Jawa Timur, masih menjadi misteri dan belum terpecahkan oleh bukti sejarah, namun beberapa tempat yang diduga memiliki keterkaitan kehidupan masa kecil sang patih hingga kini masih dikeramatkan bahkan disalahgunakan.Yang pertama adalah Setinggil, sebuah tumpukan batu yang lebih menyerupai punden berundak. Nama Setinggil didasarkan pada dua suku kata Jawa, siti yang berarti tanah dan inggil atau tinggi. Berarti Setinggil dapat diartikan sebagai sebuah tanah yang tinggi.Lokasi Setinggil berada di Dusun Bendo, Kecamatan Modo, Lamongan. Untuk menuju ke lokasi, bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun empat. Namun lebih mudah jika berkendara motor untuk menuju ke sana, mengingat jalan desa ke lokasi cukup ngepas jika dilewati mobil. Jarak dari jalan utama sekitar 200 meter.

Setelah melewati jalan aspal sepanjang desa, kemudian disambung dengan paving hingga bertemu sempalan jalan setapak berkontur tanah dan batu gunung di sebelah kiri. Lokasi Setinggil berada satu kompleks dengan pemakaman umum warga, tepatnya di pojokan jalan masuk pemakaman.Bangunan Setinggil ini lebih menyerupai punden berundak, berbentuk seperti penggabungan persegi panjang dan oval. Terdiri dari empat lapis dengan ukuran altar berbeda di setiap lapisnya. Lapisan dasar berdiameter sekitar 6 x 7 meter, terus mengerucut ke atas. Pinggiran bangunan ditopang oleh susunan batu-batu padas bercampur batu gunung.Saat penulis Ya'cob Billiocta ke sana, di atas bangunan terdapat dua batu dengan ukuran dan bentuk berbeda. Pertama batu pipih berbentuk segitiga yang berada di tengah bangunan, sedangkan batu kedua berbentuk hampir bundar sempurna dan berada di ujung tengah bangunan.Anak tangga bangunan berada di sebelah Barat, tidak pasti jumlah anak tangga lantaran kondisinya yang sudah banyak tertumpuk tak beraturan satu sama lain. Di sekeliling bangunan banyak ditumbuhi lumut dan tanaman liar.

Bangunan Setinggil dikelilingi oleh lima pohon besar; tiga pohon jati dan sisanya pohon mahoni. Untuk tinggi bangunan ini bervariasi, untuk sisi sebelah selatan tingginya berkisar dua meter, sedangkan dari arah utara tingginya sekitar tiga meter. Perbedaan ini wajar lantaran bangunan dibangun di puncak bukit yang kontur tanahnya miring.

Tidak ada bukti-bukti tertulis yang menjelaskan bangunan ini. Apakah memang ini aslinya adalah sebuah punden berundak, yang dijadikan sebagai tempat pemujaan terhadap arwah para leluhur atau bukan.Dalam cerita yang disampaikan Juru Kunci makam Dewi Andong Sari, Jumain, bangunan ini dibentuk berdasarkan sayembara antara Joko Modo (diduga nama kecil Gajah Mada) dengan teman-temannya sesama penggembala kerbau."Barang siapa yang tumpukan tanahnya lebih tinggi, maka dia akan dijadikan raja para bocah angon (anak gembala)," kata Jumain kepada PulseFeed baru-baru ini.Pada akhirnya, sayembara ini dimenangkan oleh Joko Modo. Maka sebagai hadiahnya, Joko Modo mendapat julukan sebagai raja anak gembala kerbau.Di cerita lain, Setinggil ini merupakan lokasi strategis bagi Joko Modo untuk mengawasi kerbau-kerbaunya. Dari tanah ini jarak pandang bisa mencapai puluhan kilo ke arah utara. Dari sini pula Joko Modo melihat iring-iringan pasukan Majapahit yang nantinya menjadi motivasi dirinya bergabung dalam pasukan kerajaan.

Tetapi panorama indah itu kini tinggal cerita, di sekeliling bangunan sudah banyak berdiri menjulang tanaman jati warga. Jarak pandang hanya tinggal beberapa jengkal saja ke depan.Yang naifnya lagi, lokasi Setinggil ini menjadi tempat favorit remaja desa untuk berpacaran. Hal itu terbukti ketika dua muda mudi berpacaran ketika penulis menuju lokasi Setinggil. Ali Fauzi, salah satu warga menceritakan hal itu kepada PulseFeed. Tidak cuma siang hari, terkadang kompleks pemakaman ini juga jadi lokasi pacaran di malam hari."Pemuda sekarang tidak ada takutnya, pacaran di sini tidak cuma siang saja, malam juga," katanya.

Tempat kedua yang memiliki keterkaitan dengan cerita Joko Modo adalah Sendang Krapyak yang berada di Dusun Gonjo, Modo. Lokasinya berada di persimpangan jalan yang menghubungkan Kecamatan Modo dengan sejumlah desa dan dusun yang berada di wilayah barat.Luas Sendang Krapyak berkisar antara dua meter kali 10 meter persegi. Sendang ini diapit oleh tiga pohon trembesi berusia puluhan tahun dan pohon jambu raksasa. Pohon-pohon ini yang menjadikan sumber air di sendang ini jarang kering, ditambah sebagai peneduh di kala panas matahari menyengat.

Meski terdapat sumber, air di sendang ini rada keruh. Hal ini lantaran tebalnya lumpur yang menutupi dasar sendang. Di tempat ini dulu ceritanya Joko Modo sering memandikan kerbau-kerbaunya. Bahkan diduga di dasar sendang terdapat bekas tapak kaki di atas batu. Tetapi di bulan-bulan seperti ini, bekas tapak ini tidak bisa terlihat karena tebalnya lumut dan material tanah liat.Bagi sebagian warga sekitar, sendang ini masih dikeramatkan dengan diadakannya nyadran atau sedekah bumi setiap musim panen tiba, atau sekitar bulan Juli. Sebelum acara nyadran, warga biasanya gotong royong menguras dan membersihkan sendang.

Sehari-harinya, Sendang Krapyak digunakan petani untuk membersihkan diri usai beraktivitas di sawah.

Rekomendasi